Featured
Posted in my book, story

NEBULA (COMING SOON)

“Nisi….. Kanisi…..” Suara bariton seorang laki-laki terdengar berat di telinganya. Menghambat langkah kakinya yang terlanjur menggantung di udara. Keluhannya berhenti, tapi raut wajahnya berubah aneh mendengar namanya disebut. Nisi . Sudah berapa lama ia tak dipanggil dengan nama itu. Biasanya ia akrab dipanggil Kanis atau Kanisi. Hanya satu manusia yang memanggilnya begitu. Seseorang di masa lalu yang tak pernah ia harapkan akan bertemu. Mendadak darahnya berdesir hebat. Tak mungkin laki-laki yang dulu memanggil namanya. Tak mungkin laki-laki itu ada di sini. Di perpustakaan. Tempat yang Kanisi yakin tak bakalan dijamah oleh laki-laki itu karena bukan si kutu buku seperti dirinya. Meskipun ia berharap dugaannya salah, tapi kepalanya menoleh juga mencari sumber suara.

Dengan perasaan yang mendadak tegang, Kanisi memastikan penglihatannya siang itu salah. Laki-laki yang kini berdiri terpaku sekitar 100 meter di depannya itu pastilah bukan dia. Tapi rambut cepaknya dengan model sedikit jambul di depan tak bisa membohongi, itu ciri khasnya. Juga, gaya berdirinya yang seperti juragan kembang. Kali ini bukan kembang yang ada di tangannya, melainkan backpaker hitam yang masih menggantung di lengannya. Seakan tertahan oleh matanya yang menatap gadis di depannya yang seolah tak percaya. Hal yang sama dirasakan Kanisi. Ia tak mungkin salah. Meskipun sudah beberapa tahun mereka tak saling bertemu, tapi Kanisi masih hafal betul gaya laki-laki itu. Bisa dibilang hanya ada satu dibanding satu miliar laki-laki seperti itu di bumi. Langka, karismatik, atletik. Segala tipe yang dimiliki para penakluk perempuan.

Awww …

Kanisi mencubit lengannya sendiri, ia merasakan sakit. Artinya, ia sedang tidak bermimpi. Laki-laki di depannya itu nyata dan mereka dipertemukan saat ini. Entah ini hanya kebetulan atau kejadian yang sudah direncanakan oleh Tuhan. Hati kecil Kanisi berontak. Bukankah selama ini ia tak pernah absen berdoa agar tidak dipertemukan lagi dengan laki-laki itu? Apakah Tuhan sedang mengingkari janji atau tidak mengabulkan doanya selama ini?

“Kanisi … tunggu …!” teriak laki-laki itu.

Gadis itu berjalan memutar menghindari laki-laki itu secepat yang ia bisa. Ia sedikit menyesal kenapa kakinya tidak melangkah pergi ke gerbang perpustakaan dan menyetop angkot lagi, justru mencari jalan masuk ke gedung perpustakaan. Hatinya sedang tidak sinkron dengan motoriknya siang itu dan ia benci mengakui bahwa kemunculan laki-laki yang tak pernah ia harapkan lagi itu adalah penyebabnya.

BRUKKK …

“Aduh … maaf saya tidak sengaja,” Kanisi menabrak seseorang.

Bukan laki-laki itu yang kini mengejarnya tapi laki-laki lain. Laki-laki yang tidak ia kenal, untungnya. Tapi tetap saja ia gugup, merasa bersalah. Kesialan pangkat tiga. Batinnya.

“Tidak apa-apa. Anda baik-baik saja?” Laki-laki yang ditabraknya menyapa. Memastikan dirinya tidak cedera. Lucu sekali. Kanisi yang menabrak laki-laki itu, tapi justru ia yang dikhawatirkan. Kanisi ingin menjawab, tapi lagi-lagi matanya menangkap sosok laki-laki yang menyapanya di parkiran masih sibuk mencarinya. Gawat. Ia tak boleh terlihat. Seketika tubuh gadis itu berbelok secepat kilat ke pintu masuk gedung, tepat ketika laki-laki yang mencarinya itu sudah berdiri di tempat tabrakan terjadi. Terdengar suara perempuan samar-samar memanggil lelaki itu dari kejauhan.

“Liam … Liam … Tunggu ….”

Kanis memperhatikan dari dalam gedung. Laki-laki yang bernama Liam itu ternyata sudah tidak terlihat. Antara lega dan panik gadis itu bergegas menuju ke arah petugas perpustakaan. Ia menyerahkan tanda pengenal, menerima kunci loker, lalu menuju loker untuk meletakkan tas yang dibawanya. Secepatnya ia bergegas naik ke lantai dua. Berharap Liam tak menyusulnya ke sana.

**

Novel NEBULA

Aku akan menjadi bintangmu.

Coming soon Maret 2018

 

Advertisements
Posted in my book

NEBULA IS BORN

Alhamdulillah…..

Akhirnya novel perdanaku lahir juga. Sekaligus buku kedua setelah HAPUS GELISAH DENGAN SEDEKAH.  Akhir maret 2018 sesuai jadwal terbit. Tapi baru aku posting akhir April ini ke web. Antara lega, senang, bersyukur jadi satu menjadi sesuatu yang tak bisa terbahasakan. Mengingat proses penulisannya yang lahir dari rasa ketidak percayaan diri. Tapi semuanya kini terbayar sudah. Nebulaku benar-benar sudah menjadi bintang. Semoga bisa terus bersinar tanpa perlu lagi padam.

AMin…..

Thanks for my friends yang sudah sudi membaca sepenggal kisah dari nebula. Yang memberi semangat untuk kelahiran kisah-kisah yang lain (yang saat ini masih berbentuk embrio, DLS project dan METAMORF) Semoga menyusul terbit di tahun yang sama. AMin…. butuh keberanian dan komitmen tinggi untuk membunuh bad mood yang saat ini sering jadi musuh utama.

and then…. happy reading for everyone yang udah beli. Semoga suka.

^^

wahyuindah

 

 

Posted in cerpen

PILIHAN

Hasil gambar untuk PILIHAN

Rumah tangga macam apa yang kita jalani ini? Mau sampai kapan kita terus begini?”

Dadaku selalu sesak dan darahku mengalir deras setiap kali kalimat itu menggema di telingaku. Kepalaku ikutan pening seolah pasokan oksigen berhenti mendadak sehingga tak bisa kugunakan untuk berpikir. Lumpuh total. Seperti mati suri. Sekeras apapun aku berusaha menemukan jalan keluar, selalu saja kutemui jalan buntu.

“Dibuat sholat saja Key, minta petunjuk sama yang Di Atas.”

Nani, teman satu kost-ku memberi saran. Kutepuk jidat saat mataku menangkap jam di dinding menunjuk angka 5 sore. Tak terasa sudah kulewatkan menit demi menit dengan bercerita sampai terlupakan kewajiban sholatku. Nani sedang halangan, jadi dia tak memburu waktu sepertiku. Cahaya senja matahari menerobos jendela kamarku yang sedikit terbuka. Memberikan bayangan sajadah yang kugelar di lantai ubin yang tertutupi karpet biru.

Astaghfirullahaladzim….. kuucap istighfar berkali-kali ketika untuk yang kesekian kalinya kuusap air mata yang tak henti-hentinya mengalir di pipiku. Kutarik nafas dalam-dalam berharap bisa menghentikan derasnya air mata yang tersamarkan oleh air wudhu. Nani menepuk punggungku lembut, membantuku mengatur nafas. lalu membiarkanku menutup tubuh dengan mukena putih. Dengan anggukan kepalanya, kucoba untuk mengkhusukkan diri tatkala tanganku mengangkat ke belakang telinga sambil mengucap takbir.

Ajaib…. setelah serangkain gerakan sholat yang aku jalani, sesak di dadaku mendadak berangsur-angsur pergi dan aliran darahku kembali normal. Di akhir sholat, kurasakan ketenangan batin yang luar biasa. Sensasi surgawi yang selalu aku rasakan setiap kali aku selesai mengerjakan kewajiban rukun imanku yang kedua ini. Namun kali ini berbeda. Entahlah, mungkin bisa dikatakan istimewa karena sensasi yang aku rasakan terasa merasuk di hati begitu dalam. Seolah jiwa dan ragaku menyatu menghadap Yang Kuasa. Mungkin karena air mata yang seakan bukan sekedar keluar dari kelopak mata ragaku saja, tapi juga keluar dari hatiku. Saat ini aku memang benar-benar menyerahkan segala gundahku pada Tuhan. Tempat aku mengadu segala hal. Aku tahu Nani ingin bersuara, tapi diurungkannya. Mungkin menjaga perasaanku yang sedang kacau saat ini. Maka aku yang akhirnya membuka kata.

“Makasih ya Ni sudah mau dengerin curhatku. Sebenarnya aku malu, tak seharusnya aku membuka aib keluarga.”

“Menurutku itu bukan aib. Kalau pun iya, nggak benar kalau kamu pendam sendiri saja. Nanti bisa-bisa kamu kena scizofenia loh. Dapat bisikan – bisikan nggak jelas.”

Aku menelan ludah mendengar jawaban Nani. Meskipun baru mengenalnya setahun belakangan ini karena kami teman satu kost, tapi Nani seolah sudah sangat memahamiku melebihi diriku sendiri. Pandai sekali dia memancing suasana sampai akhirnya aku mau membuka cerita apapun kepadanya. Goyah sudah pertahanan diriku untuk berusaha tutup mulut. Mottoku ‘My life for my self’ sepertinya tak akan berlaku lagi.

“Aku terlalu egois ya karena menganggap selalu bisa menangani masalahku seorang diri.” Tanyaku menyimpulkan.

“Nggak semua masalah bisa dihadapi sendirian dan nggak semua masalah bisa mudah diceritakan ke orang lain. Menurutku kamu sudah bisa bedain itu, Key. Aku senang akhirnya ada yang bisa aku bantu. Susah juga bikin manusia introvert macam kamu ini buka mulut.” Nani tertawa garing. Tapi berhenti dengan sendirinya karena aku tak ikut tertawa.

Manusia introvert…

Aku tertawa sendiri pada akhirnya setelah tawa Nani berhenti sekian detik. Membayangkan anggapan Nani terhadapku terkadang membuatku geli sendiri. Sahabat kemaren soreku itu selalu minta nasehat apapun tentang masalahnya, meminta saran ini itu setiap kali ia ingin melakukan sesuatu dengan hidupnya. Menraktirku dengan segala macam panganan yang masih asing di mataku dengan alasan yang dibuat-buat. Yang aku yakini sebagai usahanya untuk mengorek cerita tentangku. tapi gagal. Aku selalu berhasil tutup mulut. Tapi pada akhirnya aku dikalahkan dengan pepatah lama. Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, pasti baunya akan tercium juga.

Kebab turki. Tak pernah kusangka akan dikalahkan dengan sogokan kebab turki. Bukan karena aku tak pernah memakannya. Hampir tiap hari malah aku membeli jajanan itu. Macam roti maryam yang juga akhirnya jadi favoritku. Tapi kemaren sore, Nani berhasil membuatku tersentuh dengan kebab itu.

Panas bulan September ternyata makin menyengat dibandingkan bulan sebelumnya. Menurut berita di TV, hujan akan datang terlambat di bulan mendatang. Menjadikan musim kemarau akan diperpanjang beberapa pekan. Namun itu tak menyurutkan usaha Nani untuk membeli paket kebab dalam beberapa porsi.

Nadhar katanya. Setelah berita gembira yang dibawanya sore itu ia memaksaku untuk memakan sepuluh porsi kebab yang dibelinya khusus untukku.

“Mas Iyan melamarku. Benar-benar melamarku, Keyla. Aku benar-benar nggak nyangka karena sebulan yang lalu kami bertengkar hebat. Aku pikir dia mau mutusin aku setelah pertengkaran itu. karena dia menghilang tak ada kabar. Tapi kemaren lusa…..” Nani mengatur nafasnya dalam-dalam, memejamkan mata untuk mengingat runtutan kisah indah yang baru saja dialaminya, kemudian membukanya dengan tatapan yang begitu menyegarkan. Aku belum pernah melihat Nani sebahagia itu semenjak kami berteman baik.

“Dia mengajakku ketemuan dan intinya dia memberikan cincin ini padaku.” katanya sambil menunjukkan cincin emas putih melingkar di jari manisnya. “Beberapa bulan lagi kami menikah dan dia sudah setuju untuk tak membatasi karirku. Makasih Keyla. Semua berkat kamu.”

“Aku? Apa jasaku?” tanyaku tak mengerti. Nani tak langsung menjawab, tapi memandangku dengan senyuman termanisnya.

“Sekarang aku percaya kalau orang baik tak pernah mau mengakui kebaikan yang pernah dilakukannya. Tapi selalu meminta maaf atas kesalahan orang lain atas namanya. Kamu pantas dapatin kebahagiaan yang setimpal, Key.”

Kebahagiaan?

Kebahagiaan apa yang sedang dibicarakan Nani. Aku mengenal bentuk kebahagiaan dalam berbagai versi. Lulus kuliah dengan tepat waktu dan hasil terbaik, Mendapatkan pekerjaan dengan gaji “lumayan” untuk bisa hidup di Jakarta dengan status fresh graduate, punya pacar dan menikah di usia muda. &$##%^$#&^^@!##

Memoriku gagal merekam kebahagiaan lain setelah itu. Menikah adalah kebahagiaan hakiki yang seharusnya dimiliki pasangan kekasih. Lalu bagaimana dengan pernikahanku?

“Kalian hanya perlu bicara. Lupakan logika, coba pakai hati. Aku percaya kok cinta di atas segalanya.”

Deg…. lagi-lagi perkataan Nani menyadarkan aku akan sesuatu hal. Cinta di atas segalanya. kalimat yang tak asing terdengar di telingaku. Diucapkan oleh orang yang mengaku sangat menyanyangiku. Orang yang rela menyisihkan waktunya demi mengantar jemputku ke kampus, menemaniku kemanapun aku pergi tanpa mengeluh, menjengukku ketika aku sakit, mendengarkan keluh kesahku tentang tugas kuliah yang menumpuk, tentang gagal ketemu dosen, tentang teman kuliah yang membosankan dan bikin ulah, tentang banyak hal. Amar, bahkan melarangku pulang sendiri dan memaksaku menunggunya yang sudah berjanji menjemputku di stasiun Arjosari. Dua jam aku menunggu dan dia tak kunjung datang. Hampir saja kuputuskan untuk naik taksi ketika motor bebeknya akhirnya muncul di depan gerbang stasiun. Aku marah padanya dan dia diam saja sambil bilang maaf. Ketika sampai di rumahku, aku baru menyadari kalau dia berjalan pincang. Tapi dia tetap tak mengatakan apa-apa selain selamat malam dan istirahat. Keesokan harinya baru aku tahu kalau semalam Amar jatuh dari motor dan hampir terseret truk. Badannya luka-luka dan kakinya berdarah. Sedikit retak kata dokter dan harus dirawat agar kembali pulih.

“Kenapa ngebut? Sudah tahu kan kalau jalanan licin karena hujan deras.” kataku protes. Amar hanya tersenyum sambil memegang tanganku.

“Memburu waktu. Takut kamu nunggunya lama. Maaf ya, padahal aku sudah ijin dari kantor pulang sore.”

Aku tak bisa menanggapi penjelasannya yang terdengar tulus. Demi menjemputku dia rela berhujan-hujanan sambil ngebut. Bahkan Amar menolak di bawa ke rumah sakit karena dia memikirkan aku dan aku justru marah kepadanya karena datang terlambat. Oh!

“Tak perlu pikirkan aku. Yang penting kamu bahagia.”

Aku terlihat amat jahat setiap kali kuingat kalimat itu keluar dari mulutnya. Yang penting aku bahagia. Jadi itu yang akhirnya dia lakukan padaku. Mengijinkanku kembali ke Jakarta untuk melanjutkan karirku tepat sebulan setelah pernikahan kami, Tak membantahku ketika aku tak bisa pulang ke Malang selama 2 tahun karena tuntutan kerja. Rela cuti kerja demi bisa menjengukku di Jakarta tapi aku justru meninggalkannya di kost-an karena aku harus lembur. Pasrah saja ketika lagi-lagi karena tuntutan kerja aku tak bisa pulang ke Malang untuk menemaninya operasi usus buntu. Bahkan aku tak ada di dekatnya ketika kepalanya harus dijahit sebanyak 10 jahitan akibat kejatuhan mesin di pabrik tempatnya bekerja.

“Tempatnya istri itu ya di dekat suami. Untuk apa menikah kalau masih jauh-jauhan. Ini bukan pacaran lagi, tapi sudah suami istri.” katanya pada akhirnya. Aku tahu suatu saat ia akan mengatakan hal itu. Sesuatu yang sebenarnya juga aku pikirkan dalam-dalam. Tapi aku endapkan begitu saja. Aku juga punya teman kampus yang bernasib sama denganku. Hubungan jarak jauh dengan istrinya setelah menikah. Temanku kerja di Riau dan istrinya di Malang. Tapi temanku masih pulang sebulan sekali. Dea, temanku yang lain lagi juga harus jarak jauh dengan suaminya yang kerja di Lampung sementara dia di Surabaya. Tapi suaminya juga pulang ketika Dea memintanya pulang. Bahkan Cahyo yang kerja di Blitar sementara istrinya di Jombang masih menyempatkan pulang dua minggu sekali untuk keluarganya. Sementara aku? Lebaran hari raya pun aku tak bisa pulang karena ada syuting di Bali.

“Pekerjaanmu itu menyita waktu keluarga. Kalau ingin berkarir, carilah yang masih menyisakan waktu untuk keluarga. Aku juga ingin kita punya anak seperti pasangan suami istri lain. Aku ingin keluarga yang sebenarnya keluarga.”

Aku tahu maksud dari permintaannya. Dalam hatiku aku juga menginginkan hal yang sama. Tak bisa kupungkiri aku kadang juga jengkel dengan pekerjaan yang aku jalani. Tapi aku menikmatinya juga. Karena inilah hidupku. Tapi bagaimana dengan hidup orang lain. hidup Amar, hidup suamiku.

“Pilihan sesulit apapun tetap harus diputuskan. Karir atau keluarga masing – masing punya resiko. Tentukan sekarang dan lihat perubahan apa yang terjadi dalam hidupmu.” kata Nani pada akhirnya. Aku mengiyakan dan menutup percakapan kami dengan menghabiskan sisa kebab yang masih berjumlah 6. Aku tak sanggup menghabiskan semua kebab sendirian, jadi aku paksa Nani ikut memakannya juga. Tapi dia tolak karena kebab itu ditujukan untukku bukan untuknya. Bisa timbilen matanya kalau barang yang sudah diberikan diminta lagi. begitu katanya.

**

 

“Untuk apa pulang kalau nanti kamu pergi lagi.” Nada suara Amar masih terdengar kecewa, tapi aku yakin ada kelegaan di sana. Dia hanya tak mau mengakui. Mungkin gengsi karena tak mau terlihat terluka di depan pasangannya.

“Aku minta maaf.” Hanya itu yang bisa aku katakan padanya.

“Lupakan. Sekarang istirahatlah, setelah itu makan. Aku sudah buatin nasi goreng untukmu.” katanya lalu pergi meninggalkanku sendirian di kamar. Aku terlambat menyadari perkataannya yang terakhir. Nasi goreng. Apa artinya dia memasak sendiri untukku. Bukan hal yang mengagetkan sebenarnya karena sejak kami belum menikah pun dia sering masak masakan untuk kami berdua. Itu yang membuatku semakin tak berguna karena aku tak bisa masak. Sebenarnya bisa kalau hanya masak tumis atau sayur bening. Ah, pembendaharaan kulinerku tak sebanyak dia. Istri macam apa aku ini. Kenapa aku biarkan suamiku yang melayaniku?

“Makan saja. Aku sudah terbiasa kok mengurus diriku sendiri.” cegahnya ketika aku berusaha menata meja makan. Aku tak bisa enak-enakan tidur sementara suamiku sibuk di dapur sendirian. Sejak tiba di rumah kontrakan kami tiga jam yang lalu, aku memang belum istirahat lagi. Perjalanan dengan pesawat terbang memang hanya memakan waktu satu jam dari bandara Soekarno-Hatta menuju Abdurrahman Saleh. Tapi persiapan pulang ke Malang dengan memborong oleh-oleh dan segala tetek bengeknya membuatku sibuk dari kemaren. Tak dipungkiri kalau aku belum tidur semalaman.

“Maafin aku. Harusnya aku yang menyediakan makan buat kita.” Kataku sekali lagi. Tapi Amar hanya menanggapi dengan senyuman. Miris rasanya melihat sikapnya yang terus mengalah. Makan malam itu kami lewatkan dalam diam. Tak beda jauh dengan jam-jam berikutnya. Ingin rasanya aku menangis. Sikap suamiku yang terus menerus diam membuatku tersiksa. Kalau marah mengapa tidak teriak saja. Atau membentakku. Bukan dengan diam seribu bahasa begini.

Air mataku tumpah juga akhirnya. Pertahananku goyah dan Amar melihat itu. Tapi dia tak segera memelukku seperti pada awal pernikahan kami. Dia hanya memandangku dari jauh tanpa suara.

“Aku memang istri yang gak berguna. Apa kamu menyesal sudah menikah denganku?” Kataku sambil menatap matanya yang jauh nun di sana. Tapi Amar tak mengangguk maupun menggeleng. Tatapanya masih sama tajamnya seperti satu jam sebelumnya. Membuat tangisku semakin menderu biru.

“Aku harus bagaimana supaya kamu gak diemin aku seperti ini terus. Ngomong dong mas….”

“Kamu kan pintar. Kamu tahu kok apa yang seharusnya kamu lakuin. Nggak perlu nanya sama aku.” Akhirnya dia buka suara juga. Aku mengusap air mataku sendiri, lalu berjalan mendekatinya. Kuraih tangannya dan kucium  perlahan. Aku merasakan tangannya yang lain mengusap kepalaku dengan lembut. Tanda cinta masih tersisa banyak di hatinya untukku.

“Jangan pergi. Aku butuh istriku.” Bisiknya di telingaku. Aku mendongak memandangnya dan seketika aku terperanjat kaget. Matanya merah, seperti menahan tangis yang tak bisa tumpah. Aku melihat penderitaan di dalam sana. Jahatkah aku selama ini kepadanya. Inikah keinginan terbesarnya yang membuatnya marah tapi tak bisa melampiaskan kemarahannya.

“Kamu masih mencintaiku kan?” tanyaku ragu. Sungguh aku takut jika dia menggelengkan kepalanya. Tapi kepala itu tetap diam tak bergerak. Hanya bibirnya yang kemudian tersenyum penuh sayang.

“Cinta itu tak perlu diucapkan. Tapi dibuktikan dengan perbuatan.” Katanya akhirnya.

“Maksudnya?”

“Kamu tahu maksudku, Keyla. Kamu juga pasti bisa menilaiku dari apa yang sudah aku lakukan kepadamu. Kecuali kamu mengganggap semuanya hanya angin lalu.”

Memoriku langsung bergerak mundur dengan cepat. Apa yang sudah dilakukan Amar untukku. Ternyata banyak. Bahkan terlalu banyak untuk masuk ke otakku. Dia sudah mengorbankan banyak hal untukku, memberikan hidupnya untukku, bahkan setiap kali aku sakit dia selalu memelukku dan meminta agar sakit yang aku rasakan dipindahkan saja kepadanya. Lalu apa yang sudah aku lakukan untuknya. Nothing.

Aku memeluknya akhirnya. Menumpahkan segalanya ke pundaknya. Bahkan dia tak peduli jika aku mengaku belum bisa mencintainya di awal pertama kami jadian. Lima tahun yang lalu. Asalkan aku senang, asalkan aku bisa menerimanya jadi kekasih itu sudah lebih dari cukup baginya. Dia tak butuh balasan cinta dariku. Yang penting dia memberikan segala cinta dan hidupnya untukku. Tak peduli siapa aku, bagaimana aku, bahkan jika aku monster sekalipun tak akan mengubah cinta yang membara di hatinya untukku. Maka bukan hal yang besar jika dia mengetahui cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku membalas cintanya atau pun tidak, cintanya kepadaku tak akan pernah berubah. Lalu apalagi yang aku ragukan dari laki-laki tulus seperti dia. Bukankah dia pangeran yang dikirimkan Tuhan untukku. Seperti doaku yang selama ini aku munajadkan hampir di setiap sepertiga malam.

“Maafin aku. Aku yang salah. Aku akan pulang. Tapi tidak bisa sekarang. Boleh kan kalau aku selesaikan kontrak kerjaku di sana. Setelah selesai masa kontrak, aku langsung resign. Aku janji.” Amar menatapku lama, lalu mengecup keningku dengan lembut.

“Tidak perlu janji kalau tidak bisa menepati. Kamu di sana selamanya juga tidak apa-apa.”

“Nggak…. aku hanya perlu nyelesaiin masa kontrak 6 bulan lagi. Setelah itu aku pulang. Aku mohon, aku juga mau kita hidup seperti suami istri pada umumnya. Punya anak, dan lain-lain.”

“Jadi kamu memikirkannya juga. Aku pikir kamu hanya peduli dengan karirmu saja.” Dia tertawa garing. Ada perih dari pita suaranya yang tertangkap gendang telingaku. Membuat hatiku makin sakit saja.

“Terserah kamu menganggapku apa. Tapi aku gak seegois yang kamu kira. Aku sayang sama kamu, aku mau memperbaiki semuanya.”

Amar kembali diam. Tatapannya tak beralih sedetikpun dari mataku. Seolah dia mencari pembenaran dari kata-kataku tadi.

“Senang dengernya. Thank you, I love you again.” Dia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku lembut. Seluruh dunia rasanya runtuh di depanku oleh gejolak yang memburu di hatiku. Sungguh aku tak ingin jadi manusia jahat. Hari itu juga aku siapkan segala sesuatunya untuk menyelesaikan pekerjaan yang aku bawa pulang kampung. Seminggu lagi aku kembali ke Jakarta dan tekadku bulat ketika mataku menatap kertas yang sudah terketik rapi di depanku.

“Maafin aku pak bos. Aku senang dengan peningkatan karirku di kantor. Tapi aku lebih senang dengan peningkatan arti diriku di depan suamiku. Selamat tinggal Jakarta. Bismillah…. semoga pilihanku benar kali ini.” Keyla memandang penuh keyakinan ke arah kertas putih yang kini sudah dilipatnya rapi itu, lalu memasukkannya ke dalam amplop coklat kecil yang didepannya sudah dia tulis dengan rapi pula bertuliskan “Surat Pengunduran Diri”

The end.

 

Cerpen oleh Wahyu Indah

Penulis buku Hapus Gelisah Dengan Sedekah dan novel Nebula

 

Posted in cerpen

JALAN PULANG

Hasil gambar untuk jalan pulang

Kujumpai lagi malam gelap tanpa bintang. Mendung menutupinya dengan begitu egois. Padahal sudah sejak langit dikuasai matahari, awan tebal itu sudah menjajah sinarnya dan memberikan sedikit saja ke bumi. Ternyata bulan juga tak kalah kena upeti. Sinarnya yang didapat dari pantulan matahari tak diberikan sepenuhnya ke bumi. Melainkan diserap sendiri dan membiarkan bumi gelap tanpa pesona. Bintang yang kerlap-kerlip di angkasa tak diijinkan nampak ke bumi. Mungkin para pelancong luar angkasa sana juga tak bisa pulang ke bumi karena terhalang awan tebal itu. Aku hanya tersenyum kecut setiap kali khayalanku mengangkasa ke arah sana. Imajinasi liar, harapan dari insan yang merindukan untuk menemukan jalan pulang.

 

Namaku Lintang. Tak ada embel-embel nama depan maupun nama belakang. Yah, hanya Lintang. Mungkin kalau aku punya adik, bapak ibuku akan menamainya dengan bujur. Sayangnya, adikku sudah dipanggil duluan oleh sang Pencipta sejak masih di dalam perut ibu. Dan betapa kagetnya aku saat bapak bilang kalau bapak sangat kehilangan si bujur. Ibu bertanya heran tentang siapa si bujur. Kata bapak, bujur adalah nama yang akan diberikan untuk calon adikku. Entah mengapa aku merasa bersyukur adikku tidak jadi dilahirkan. Mungkin karena aku tak mau malu dengan nama yang disandangkan orang tuaku kepada adikku, bujur. Nanti bakalan ditambah-tambahin jadi bujur sangkar. Hahaha… aku sering tertawa garing setiap kali membayangkan hal itu.

 

“Harusnya namamu itu Malang melintang saja. Atau Lintang luntang lantung.” Rani sering mengejekku demikian. Padahal namanya saja juga aneh. Gerimis mengundang. Nama yang absurb untuk disandangkan kepada seorang anak. Kata ibunya waktu aku bertandang ke rumahnya dulu, Rani memang lahir saat cuaca sedang gerimis. Padahal kala itu sedang musim panas. Entah mengapa dia malah menamai dirinya sendiri dengan Rani. Bukannya gerimis.

 

“Rani Kanaya Putri, itu namaku sebenarnya. Bukan gerimis mengundang.” Rani sering bilang begitu setiap kali ditanya soal nama. Dia membuat nama sendiri yang jelas-jelas ditolak bapak ibunya. Meskipun aneh, gerimis mengundang punya makna yang dalam. Begitu dalih mereka. Karena gerimis dianggap sebagai permulaan datangnya hujan. Sedangkan pintu langit dibuka lebar-lebar setiap kali hujan turun. Jadi doa yang dipanjatkan pada saat hujan kebanyakan diijabah oleh Tuhan. Jadi saat hujan dadakan itu muncul, bapaknya Rani sempat tak sengaja bilang kalau anaknya perempuan akan dinamai gerimis karena bapaknya memang sangat menginginkan anak perempuan. Jadi karena dikabulkan, nama itu resmi disandangkan kepadanya.

 

“Lalu kamu gimana Lintang, kenapa bapakmu menamaimu Lintang? Kayak garis lintang bumi saja.” Aku terjebak dalam mesin waktu setiap kali pertanyaan itu diajukan kepadaku. Aku tak tahu, dari dulu aku tak tahu apa sebabnya bapak memberiku nama itu. Kedengerannya sih keren. Tapi tetap saja tabu di telingaku. Kadang aku ikut-ikutan Rani memberi nama panjang pada namaku. Lintang Kamarun. Tapi kedengerannya seperti nama tokoh dalam salah satu novel favoritku. Tapi aku tidak peduli, jadi sejak saat aku punya nama panjang. Yaitu Lintang Kamarun. Bukan Lintang kemaren.

 

Apalah artinya nama kalau tidak dibarengi dengan ibadah. Setiap nama itu mengandung doa orang tua. Semua pasti berharap anak yang lahir menjadi anak yang baik, sayang orang tua, berguna bagi nusa dan bangsa dan harapan besar lainnya dari para orang tua. Meskipun banyak juga yang asal memberi nama. Coba bayangkan, harapan apa yang diminta orang tua ketika menamai anaknya Iyem, Markonah, Sapri, Ijah atau nama – nama sejenis yang kebanyakan diberikan oleh orang tua jaman dulu.

 

Orang zaman dulu gak pernah neko-neko. Kata ibu suatu malam kepadaku. Banyak tirakat dan ibadah, jadinya omongan yang keluar dari mulut saja bisa jadi kenyataan saking saktinya. Makanya nama juga dibikin sederhana. Beda sama zaman sekarang yang berlomba memberi nama sekeren-kerennya pada sang anak, tapi tirakatnya nol. Padahal manusia hidup itu nanti bakalan kembali pulang kepada yang punya. Kita di sini kan cuman numpang singgah. Gak lama.

 

Kepalaku langsung pening mendengar ucapan ibu. Obrolan berbobot nih, pikirku. Karena sudah menyangkut urusan hidup manusia. Bakalan butuh konsentrasi supaya aku bisa paham. Maklum, untuk ngomongin masalah manusia dan kehidupannya di dunia ini kadang otakku kurang nyampe. Jadi lama mengertinya. Ini pelajaran tentang hidup, tak akan pernah aku dapatkan di bangku sekolah manapun dan tingkat manapun.

 

Aku sering duduk sendirian di teras rumah, apalagi kalau sudah lewat tengah malam dimana semua penghuni rumah sudah pada berlabuh ke pulau kapuk masing-masing. Sedangkan aku masih saja berlayar sambil menatap langit malam dan mengamati apa saja yang terjadi di atas sana. Kadang kalau banyak bintang, aku berkhayal bisa memetik satu dan membawanya ke rumah. Kalau langit bersih tanpa bintang, aku jadi ikut sedih berharap bisa terbang ke sana mencari mereka. Kadang aku juga merasa melihat bintang jatuh. Tapi tak yakin karena mataku selalu mengantuk ketika aku merasa melihat sesuatu melesat di langit malam di atas sana. Tapi seperti kebanyakan mitos tentang doa yang dipanjatkan setiap kali ada bintang jatuh, aku pun mencoba melakukannya. Tapi aku tak pernah tahu apa yang aku minta kecuali satu kata yang selalu meluncur begitu saja dari mulutku. Pulang.

 

Entah apa yang ada dalam pikiranku, tapi aku merasa belum menemukan jalan pulang. Aku ada di rumah, tapi rumah itu seperti hanya tempat singgah. Seperti nasib manusia dengan banyak nama di bumi ini. Hanya sementara. Setiap pagi berangkat kerja, makan siang di kantin kantor, pulang jam lima sore, makan malam dan nonton TV di dalam rumah dan berakhir di tempat tidur. Begitu seterusnya rutinitas yang aku lalui hari demi hari. Dan setiap tengah malam, aku selalu terbangun dan seakan terdorong untuk melangkah ke teras rumah. Memandangi langit malam hingga tiba waktu tiga perempat malam. Saat itulah aku mengambil air wudhu dan menggelar sajadah. Bertanya kepada yang menciptakanku mengapa hidupku terasa hambar. Itu – itu saja. Tak mungkin kan aku diciptakan di dunia ini tanpa maksud apa-apa. Hanya sekedar memenuhi populasi manusia yang sudah membludak.

 

Kadang aku lelah dengan berbagai pertanyaan yang muncul tiba-tiba dalam benakku. Sederhana, kadang terlupakan, namun juga sering muncul kembali. Seperti ketika mbah kakung meninggal sehabis operasi hernia. Penyakit yang menyebabkan selaput yang membungkus usus ambrol sehingga melorot dan membuat usus masuk ke kantong kemih. Sebenarnya hernia bukan penyakit mematikan. Tinggal dioperasi satu kali dengan menjahit selaput yang jebol dan mengembalikan usus ke tempatnya semula sudah sembuh. Tapi karena mbah kakung takut operasi apalagi jarum suntik, hasilnya penyakit itu dibiarkan hingga dua tahun. Akibatnya ususnya membusuk dan harus dibuang. Perutnya harus dilobangi untuk membuat anus buatan. Kalau tidak begitu, bagaimana makanan bisa dibuang di anus kalau tidak punya usus. Jutaan pertanyaan singgah di pikiranku saat aku melihat sedikit demi sedikit tubuh kakung mulai berkurang bobotnya. Tubuhnya yang gagah perkasa, perlahan menjadi ringgih dan tinggal tulang dibalut kulit. Tak jarang aku mendengarnya mengeluh minta pulang.

 

“Bapak harus dirawat biar sembuh. Kalau sudah sembuh boleh pulang.” Kata ibu menghiburnya. Dan benar saja, setelah mbah kakung tidak meributkan keinginannya untuk pulang, besoknya mbah meninggal. Kata ibu, mungkin yang dimaksud mbah pulang itu ya mati. Pulang menghadap ke Sang Pencipta. Di hadapan sang Khaliq nanti, hal sederhana seperti nama akan dimintai pertanggung jawabannya. Otakku langsung sibuk memikirkan hal itu.

 

Kenapa aku dinamai Lintang. Aku bukan Lintang temannya si ikal di novel Andrea Hirata yang terkenal pintar itu. Aku juga bukan Lintang di novel teenlit terbitan Gramedia yang kebanyakan digambarkan sosok yang jenius sekaligus cupu. Aku Lintang. Gadis biasa dari keluarga sederhana. Anak tunggal yang tak pernah mimpi maupun berharap punya adik, meskipun banyak yang menggodaku dengan iming-iming enakan punya saudara karena bisa bikin heboh. Sayangnya aku tidak suka keramaian. Bintang di langit sana adalah teman-temanku dan kepada merekalah aku selalu menanyakan segala hal termasuk kemana arah jalan pulang menuju rumahku.

**

 

Gerimis sore itu tak membuat langkah Rani melambat sedikitpun. Wajahnya nampak tegang dengan tangan memegang erat tas kerjanya. Berharap tas kerjanya tak jatuh ketika disenggol pejalan kaki yang suka main serobot. Atau pencopet yang tiba-tiba nongol dan menjambret sesukanya. Rani memeluk erat tasnya seolah ada barang berharga di dalamnya. Setelah sampai di rumah sahabatnya, barulah gadis yang punya lesung pipi itu membuka tasnya. Tak lupa sambil berkicau ketika mendekati sahabatnya yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.

 

“Kamu ini memang bandel, Lintang. Kenapa nggak bilang kalau obat asmamu habis. Jadi sudah tiga hari ini kamu sesak seperti ini?” katanya dengan khawatir.

 

“Aku hanya tidak ingin bergantung sama obat itu, Ran.”

 

“Penyakit kok buat coba-coba. Kalau udah kayak gini gimana. Untung aku punya firasat nggak enak waktu lihat kamu ijin pulang cepat tadi. kenapa nggak libur aja sih. Udah tahu sakit masih saja kerja.”

 

Rani tidak membiarkan Lintang menyela kalimatnya sepatah pun. Dengan sigap, Rani menyiapkan air minum dan memberikan obat asma ke tangan Lintang. Dengan mata melotot, dia menyuruh sahabatnya itu segera meminum obatnya.

 

“Makasih Ran, aku akan ganti uangmu yang sudah kamu pakai buat beli obatku.”

 

“Awas kalau kamu berani-berani menggantinya. Kamu kan sudah kayak saudaraku, nggak perlu lah. Sekarang istirahat, kalau belum baikan juga kita langsung ke rumah sakit. Nggak boleh nolak.” Rani melotot sekali lagi ke sahabatnya. Lalu menemaninya hingga sahabatnya benar-benar tertidur pulas. Ia tak pernah menyangka jika sahabatnya itu tak pernah bangun lagi. Ia baru menyadarinya ketika bapak ibunya yang baru pulang dari luar kota menengok anak semata wayang mereka di dalam kamar. Mereka nampak lega melihat Rani, sahabat sang anak menemaninya sepanjang malam. Namun ketika mencoba membangunkan Lintang, tubuh gadis itu sudah kaku dan matanya sudah tak membuka lagi. Rani baru menyadari satu hal. Posisi tidur Lintang yang bersendekap dengan tangan tangan di atas tangan kiri, seperti posisi orang yang siap dikafani. Masya Allah…

 

Di depan pusara Lintang, Rani menangis tak henti-henti seperti gerimis yang mendadak datang di tengah panasnya sinar mentari siang itu. Tak ada firasat, tak ada tanda-tanda, sahabat yang sudah membuatnya sadar diri itu pergi untuk selamanya. Rani tertunduk sambil berujar.

 

“Waktu memang begitu kejam ya Lintang. Bahkan aku gak pernah nyadar kalau semalam adalah pertemuan terakhir kita. Aku bahkan belum berterima kasih kepadamu. Teman yang menyadarkan aku untuk selalu bersyukur. Tau nggak, kalau aku pikir-pikir gerimis nama yang oke juga loh, seperti Lintang.”

 

Rani mengusap pusara Lintang sambil menghapus air mata yang deras mengalir di pipinya.

 

“Selamat jalan saudariku, sekarang kamu sudah menemukan jalan pulang. Bukankah itu yang selalu kamu tanyakan di sepanjang hidupmu? Tentang pulang menuju kedamaian. Hidupmu tidak hambar, karena kamu mengajariku banyak hal. Untuk itulah kamu hidup Lintang. Untuk mempertemukan aku kembali pada kesadaranku bahwa aku selama ini tak pernah bersyukur. Kalau bukan waktu yang mempertemukan kita dan menjadikan kita teman, mungkin aku masih ada di klub malam, bersenang-senang dengan banyak pria dan mati tanpa sempat mengenal agama. Kamu yang mengajariku semua itu Lintang dan tak pernah sedikitpun kamu meminta bayaran. Harusnya aku yang mati duluan, tapi Tuhan terlalu sayang padamu. Terima kasih sahabat. Kini aku juga menemukan jalan pulang. Dengan mengikuti apapun yang sudah kamu ajarkan kepadaku. Sholat lima waktu, sholat malam, puasa, sedekah dan semua kebaikan yang kamu punya. Tuhan mengirimkan kamu untuk aku, Lintang. Itu yang sering aku katakan kepadamu tapi tak pernah kamu hiraukan.”

 

Rani menumpahkan air matanya sejadi-jadinya. Bersamaan dengan hujan yang mendadak saja mengguyur bumi. Seakan langit ikut runtuh. Rani tak pernah tahu jika Lintang juga ada di sana. Menyaksikan semua pengakuan Rani yang ternyata juga menyadarkannya. Kebaikan ternyata memang tak perlu diungkapkan. Karena itulah pahala kehidupan yang sebenarnya. Kini dia tahu tujuan dia dilahirkan dan dia bersyukur akan hal itu. Dengan senyum memancar di balik tubuhnya yang memancar cahaya putih, Lintang berjalan menuju jalan pulang yang terbentang di depannya.

 

**

 

Cerpen oleh Wahyu Indah

 

 

 

 

 

Posted in parenting

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER DI USIA DINI

Anak adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada kita. Disadari ataupun tidak, kehadiran anak membawa perubahan kepribadian dan kehidupan baru bagi orang tuanya. Karena itulah kehadiran anak sering disebut sebagai pelengkap kebahagiaan rumah tangga. Atas dasar itulah sudah menjadi tanggung jawab orang tuanya untuk memberikan yang terbaik bagi si anak.  Terutama pendidikan. Kenapa pendidikan? Karena pendidikan dapat membentuk karakter dan kepribadian anak di masa mendatang.

 

Pendidikan merupakan hak asasi anak yang mutlak harus diberikan orangtuanya. Karena itu sebuah kesalahan jika orang tua mengesampingkan soal pendidikan anak mereka. Pendidikan yang dimaksud di sini bukan hanya pendidikan formal di bangku sekolah. Karena pendidikan yang ditekankan adalah pendidikan moril dan budi pekerti yang sudah harus diberikan orang tua kepada anaknya bahkan ketika anak masih di dalam kandungan sang ibu.

 

Menjadi orang tua berarti siap menjadi manusia baru yang menerima dan menggali ilmu baru.  Dalam hal ini baik anak maupun orangtua sama-sama menerima ilmu baru. Jika sang ibu belajar mengurus anak dan merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, maka sang anak di masa-masa emasnya belajar menangkap dan mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Masa emas ini terjadi di 1000 hari setelah kelahiran. Atau rentang usia 0-5 tahun. Di usia inilah anak mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan usia dini. Nah apa sih pendidikan usia dini itu?

 

Kalau berdasarkan bahasa gampangnya, pendidikan usia dini ya pendidikan yang diberikan untuk anak di usia dini yaitu 0 – 5 tahun. Pendidikan yang dimaksud di sini bukan berarti harus membawa anak ke bangku sekolah. Namun dengan memberikan contoh perilaku yang baik dan mengajarkan hal sederhana kepada anak. Misal mengajarkan bayi untuk merangkak, berdiri, belajar makan sendiri dan sejenisnya. Sementara secara baku atau tertruktur, pendidikan usia dini dapat diartikan sebagai jenjang pendidikan sebelum jenjang sekolah dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga anak usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan sehingga anak mempunyai kesiapan mental dan pikiran dalam memasuki pendidikan yang lebih lanjut. Baik itu pendidikan formal maupun informal. Mengapa usia yang disebutkan di atas berbeda. Ada yang menyebut 5 tahun, ada yang menyebut 6 tahun. Sebenarnya berapa sih rentang usia untuk usia dini itu.

 

Menurut pasal 28 UU Sisdiknas no 20/2003 ayat 1, rentang usia untuk usia dini adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraan di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0 – 8 tahun. Sementara untuk membedakan usia anak di masa-masa emasnya yaitu 0-1 tahun disebut bayi, batita (0-3 tahun), kelompok bermain (3-6 tahun), dan sekolah dasar kelas awal (6-8 tahun). Diantaranya kelompok usia tersebut, usia 0-5 tahun adalah usia emas (golden periode) dimana otak anak mengalami perkembangan pesat.  Hampir 70 persen pembentukan karakter manusia dimulai dari usia 0 hingga 5 tahun. Sementara itu sebuah penelitian menyebutkan bahwa di usia 4 tahun, kapasitas kecerdasan anak telah mencapai 50 persen. Hal ini menyebutkan bahwa di lima tahun pertama kehidupannya, anak sudah memiliki kemampuan photographic memory dimana daya ingat memori otaknya seperti mata kamera. Maksudnya anak di usia ini mampu merekam kejadian apapun dengan baik di dalam otaknya. Tanpa filter. Itu sebabnya sudah tugas orangtua untuk memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya agar anak meniru hal-hal yang baik. Karena anak belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Anak hanya mampu merekam apapun yang terjadi di sekitarnya secara mentah dan utuh. Jika yang diliihatnya adalah hal baik, maka anak akan menjadi baik. Namun jika yang direkam oleh memori otaknya adalah perilaku buruk, maka anak akan menjadi buruk. Tanpa anak mengetahui kalau apa yang dilakukannya itu baik atau buruk. Sementara itu 8 persen jaringan otak anak mengalami perkembangan pesat di usia 8 tahun dan mencapai puncaknya pada usia anak 18 tahun. Dan setelah itu walaupun dilakukan perbaikan nutrisi, tidak akan berpengaruh pada perkembangan kognitifnya. Itu artinya perkembangan anak usia 4 tahun pertamanya sama besarnya dengan perkembangan otak anak di usia 14 tahun berikutnya. Itulah sebabnya, golden periode ini merupakan periode kritis bagi anak dimana perkembangan yang diperoleh anak pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak pada periode berikutnya hingga dewasa. Masa emas ini hanya terjadi sekali seumur hidup, jadi jika tidak dimanfaatkan dengan baik maka akan berpengaruh pada karakter dan kepribadian anak di masa dewasa nanti.

 

Menurut Byrnes (peraih gelar Woman of the Year dari Vitasory di Australia), pendidikan usia dini memberikan kesiapan bagi anak menyongsong masa depannya karena pada usia ini anak dididik untuk menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, belajar beradaptasi dan yang terpenting adalah punya semangat untuk belajar.

 

Di sinilah peran pendidikan anak usia dini diperlukan. Dimana anak akan diberikan kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. Selain itu, pendidikan usia dini juga merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan, daya cipta, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Direktur Jenderal Pendidikan Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) yang biasa disapa Prof. Reni mengatakan bahwa kegiatan di PAUD dapat memberikan rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak usia pra sekolah. Terutama untuk anak usia 3 – 6 tahun, dimana pendidikan usia dini yang diberikan tidak hanya mengenalkan anak pada bidang pembelajaran atau sosialisasi dengan teman sabayanya. Namun lebih jauh dari itu, yaitu mengembangkan semua aspek perkembangan anak meliputi perkembangan kognitif, bahasa, fisik (motorik kasar dan halus), sosial dan emosional.

 

Orang tua adalah guru pertama dan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jadi alangkah lebih baik jika pendidikan usia dini dimulai dari rumah oleh orang tua anak itu sendiri. Karena apa yang dilakukan orang tua, disadari atau tidak pasti akan ditiru oleh anak. Dalam artian anak dengan sendirinya akan belajar menangkap apapun yang terekam oleh panca inderanya. Tak heran, jika pada usia emas inilah bakat anak mulai muncul. Menurut Mary Ruckmeyer, PhD, penulis buku “Strengths Based Parenting” dan direktur Gallup’s Donald O. Clifton Child Development Center menyakini bahwa tugas orang tua adalah untuk mengembangkan bakat anak sehingga anak dapat sukses dan menjalani kehidupannya.

 

Terlepas dari semua sumber yang mengatakan pentingnya pendidikan anak, kadang orang tua mendapati perbedaan antara teori dan praktek di lapangan. Karena pada kenyatannya ada beberapa hal yang menjadikan pertimbangan orang tua kaitannya dengan pendidikan usia dini ini, diantaranya :

  1. Orang tua yang semangat memberikan pendidikan untuk anaknya, tapi anaknya yang terkesan masa bodoh dan tidak mau sekolah. Maunya hanya bermain saja.
  2. Anak yang mempunyai minat sekolah, tapi orang tuanya yang terkesan cuek. Menganggap bahwa PAUD hanya buang-buang uang saja. Jadi tidak perlu menyekolahkan anak di usia dini.
  3. Orang tua yang sadar akan pendidikan usia dini untuk anaknya dan anak yang mempunyai minat sekolah, tapi di sekolah anak susah untuk bersosialisai. Maunya sekolah ditemani terus sama mamanya.

 

Melihat kasus di atas mungkin yang menjadi kesalahan adalah cara yang dilakukan orang tua kepada anak. Tidak sedikit orang tua yang memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Hingga anaknya merasa tertekan. Maksud orang tua ingin membentuk anak menjadi pribadi yang pintar, mandiri dan cerdas. Namun orang tua lupa bahwa kegiatan belajar bagi usia dini haruslah dilakukan dengan menyenangkan dan atas kemauan si anak sendiri. Jika orang tua terlalu memaksa, yang terjadi adalah terbentuknya sifat pemberontak pada anak. Karena pendidikan yang dipaksakan bukan ditujukan untuk si anak, tapi untuk kepentingan orang tua itu sendiri. Orang tua harus ingat, bahwa anak usia dini adalah masanya bermain, masanya anak mengenal dunia baru bagi dirinya. Jadi jika ingin memasukkan unsur pendidikan ya harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan kepribadian anak.

 

Beberapa cara yang bisa dijadikan pertimbangan bagi orang tua untuk menekankan pentingnya pendidikan adalah sebagai berikut :

  1. Pendekatan secara pribadi. Ubah pandangan orang tua mengenai keinginannya menjadikan anaknya pintar dan juara. Tapi ikuti alur anak. Karena bakat dan minat anak itu terbentuk dengan sendirinya seiring dengan kondisi lingkungan yang mendukung. Maksudnya jika anak dalam keadaan selalu senang dan diberi kebebasan untuk bereksplorasi, maka bakat anak akan terlihat. Misal anak suka gambar dan coret-coret, jika kita memberinya pensil warna lalu anak terlihat tertarik berarti anak minat dan bakat dalam mewarna.
  2. Jangan memaksakan kehendak orang tua kepada anak. Karena hal ini hanya akan memicu perlawanan anak sehingga tercipta sifat pemberontak yang dapat dilihat dari sikap anak yang menentang orang tuanya. Misal tidak mau lekas mandi, mogok makan, membantah jika dinasehati, dan sejenisnya. Orang tua jangan langsung mengatakan kalau anaknya nakal. Karena pada dasarnya tidak ada yang anak yang nakal. Anak hanya mencoba menyuarakan apa yang ada di dalam benaknya. Sebagai bentuk ungkapan perlawanan atas apa yang dilakukan orang tua kepadanya. Karena pada kebanyakan orang tua akan mengatakan anaknya nakal kalau tidak menuruti kemauan orang tua. Ubahlah kebiasaan ini. Sudah saatnya orang tua yang mengikuti kemauan anak, tentunya yang sesuai dengan dunianya. Misalnya anak tidak mau lekas mandi. Mungkin karena dia masih mengantuk, atau masih ingin bermain. Maka orang tua harus pintar mengolah keadaan agar anak mau mandi. Misalnya dengan membuat suasana mandi jadi menyenangkan. Dengan begitu anak akan dengan senang hati berangkat sekolah tanpa perlu dipaksa.
  3. Masuklah ke dunia anak. Mungkin terlihat kekanakan jika kita melihat orang dewasa yang ikut menangis mengikuti gerakan aksi ngambek anaknya yang menangis. Atau pura-pura ngambek ketika anaknya ikut ngambek. Padahal cara seperti itu justru bisa membuat anak sadar diri. Dia tidak merasa sendirian ketika ngambek minta dibelikan kue, padahal di luar sedang hujan deras. Kalau orang tua ikutan ngambek dengan mengatakan kalau hujan membuatnya bosan di rumah, maka anak akan merasa punya teman senasib sepenanggungan. Ini akan membuat perhatian anak beralih ke orang tuanya. Tugas orang tualah untuk membuat suasana ngambek tadi jadi menyenangkan. Lihatlah apa yang dilihat anak, dan dengarlah apa yang didengar anak. Dengan begitu kita secara tidak langsung mengajarkan sesuatu yang baik kepada anak. Tanpa terkesan menggurui dan tentunya sikap ini akan membentuk karakter anak di kemudian hari. Ingatlah anak yang dididik dengan lembut dan penuh kasih sayang akan tumbuh menjadi sosok yang penuh rasa sayang kepada sesamanya. Begitu juga dengan anak yang tumbuh dengan kekerasan akan tumbuh menjadi anak yang pendendam.
  4. Pujilah anak sekedarnya saja. Memuji memang kegiatan yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dengan baik. Namun memuji secara berlebihan apalagi disertai dengan menjelekkan orang lain akan membentuk anak menjadi sombong. Sebaliknya tidak pernah memuji akan membuat anak menjadi sosok yang introvert dan selalu minder. Karena itulah pujilah anak di tempatnya yang tepat. Ketika anak sudah bisa berjalan, berilah tepuk tangan dan kata – kata pujian. Ketika anak sudah bisa menulis, ucapkan kata selamat anakku pintar. Tapi jangan sampai mengatakan kalau anakku pintar sejagat raya, tidak ada yang menandingi, dan sejenisnya. Ini hanya akan membuatnya menjadi sombong dan merendahkan orang lain.
  5. Tegurlah anak jika melakukan kesalahan. Orang tua yang terlalu sayang atau mungkin kakek neneknya yang teramat sayang barangkali akan memanjakan anak. Sikap ini justru akan membuat anak merasa selalu berada di zona nyaman. Dia merasa berhak melakukan apapun karena akan ada orang yang selalu membelanya. Ini buruk untuk perkembangan karakternya di masa mendatang. Anak akan tumbuh menjadi sosok yang berbuat semaunya sendiri, sombong dan merendahkan orang lain. Maka dari itu, tegurlah anak jika melakukan kesalahan. Tunjukkan bahwa apa yang dilakukan itu salah dan berilah contoh bagaimana melakukan hal yang benar. Jika anak menangis karena keinginannya tidak dituruti biarkan saja. Itu akan menunjukkan kepadanya bahwa tangisannya tidak akan membuat kesalahannya diampuni begitu saja. Ajarkan kepada anak untuk belajar menghargai orang. Jika anak tidak mau sekolah, tunjukkan bahwa sekolah itu menyenangkan. Anak akan punya banyak teman sebaya dan akan belajar saling berbagi.

 

Dunia anak memang dunia yang menyenangkan. Maka buatlah menjadi menyenangkan bagi anak dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Manfaatkan usia dini anak menjadi masa-masa paling membahagiakan bagi anak, karena pada masa emas ini segala bentuk pembelajaran yang diterimanya akan membentuk karakter anak di masa mendatang. Apalagi daya tangkap anak pada periode emas ini sangatlah pesat. Anak akan mudah menangkap pelajaran dan mengeksplornya. Jika gagal memanfaatkan masa-masa emas ini, maka dapat dipastikan kehidupan anak di masa mendatang akan bermasalah. Karena karakter yang terbentuk adalah karakter yang buruk. Bijaklah menjadi orang tua dan jadilah sosok yang selalu diidolakan anak dalam hidupnya. Karena karakter anak terbentuk tak jauh dari katakter orang tuanya.

 

**

 

 

 

Posted in Event

Sayembara Menulis Cerpen

Hasil gambar untuk sayembara cerpen mitologi

Sudah lama tidak menyentuh blog membuat tangan saya mati rasa. Tapi perlahan cair ketika saya dapatkan info lomba menulis cerpen ini dari seorang teman. Tahun baru pasti membawa semangat menulis yang baru juga kan. Artinya siap menelurkan karya baru juga. sayembara menulis cerpen tema mitologi ini patut dicoba. Mumpung deadlinenya masih lama.

let’s write..

 

 

Posted in parenting

Gejala Aneh Atta ketika mau punya adik

2016-08-14 18.03.57.jpg

Atta makin ceriwis. Tiap hari ada-ada saja yang dia omongin. Nada bicaranya cepat bak rel kereta api yang tidak bisa sembarangan berhenti. Tidak bisa disela. Bahkan lebih cenderung caper alias cari perhatian ke mama papanya dengan cara apapun. Tapi bisa jadi tanpa ada sebab yang jelas marah-marah dan melempar barang sembarangan. Nangis hanya karena mamanya bilang “tak boleh sayang” atau keinginannya untuk minta mobil-mobilan dituruti dengan begitu gampangnya. Nah loh. (maunya dilarang, jadi bisa ada alasan buat nangis. Ini kok dikasihkan saja. hehe)

Tingkah aneh Atta semakin menjadi ketika saya justru menertawakannya yang sedang merajuk. Maksudnya mungkin saya dilarang tertawa. Anehnya lagi ketika papanya marah, Atta justru minta dipeluk dan digendong papanya. Tuh, bingung kan. Sekarang yang lebih bingung lagi, Atta sedang suka-sukanya selfie pake hp saya. Senang dipotret dengan gaya ini itu. Kalau lagi memeluk saya pasti tak lupa memeluk perut saya yang membuncit sambil bilang. “Atta mau main sama adik ma. Adik suluh kelual ma.”

Subhanallah…. Atta pintar sekali. Dia tahu kalau akan segera punya adik yang sekarang masih ada di dalam perut saya. Kadang saya berpikir kalau tindakan Atta adalah wujud kecemburuan karena kasih sayang orangtuanya kelak akan terbagi dengan adiknya. Itu juga yang sering dibicarakan para tetua yang ada di sekitar saya. Orang tua, mertua bahkan tetangga. Kalau bahasa jawanya “nggudo” atau menguji kesabaran orangtua. Bahkan Atta sendiri sebenarnya tidak menyadari sikap yang dilakukannya karena semua itu bersikap naluriah. Karena seingat saya, sikap Atta itu terlihat justru ketika saya mengetahui kalau saya sedang hamil anak kedua.

Untunglah saya diberitahu tentang gejala”aneh” Atta dan cara mengatasinya oleh para orangtua. Jadi saya bisa lebih memaklumi tentang sikap anak sulung saya yang memang masih berumur 2,5 tahun. Suami juga berusaha untuk memahami psikologi anak kami dengan melatih kesabaran dan berusaha untuk tetap memberikan perhatian kepadanya. Bisa jadi para bunda dan ayah di rumah juga mengalami hal yang sama dengan kami. Jadi mungkin beberapa hal berikut bisa diterapkan agar buah hati kita tetap merasa disayangi dan tidak disingkirkan dengan kehadiran anggota keluarga baru.

  1. Jangan berubah dalam memberikan perhatian. Tetap konsisten dan tulus. Kalau bisa perbanyak memberikan peluk dan cium untuk menunjukkan bahwa mama papanya tetap mencintai dan menyanyanginya.
  2. Perkenalkan si kakak dengan calon adiknya yang masih ada di dalam perut mama. Tekankan pemahaman bahwa adiknya nanti akan jadi teman bermain kakak setelah lahir ke dunia. Jadi kakak tidak merasa kesepian. Atta sering ikut mengelus perut saya dan menciuminya. Saya bersyukur karena Atta sepertinya sayang kepada adiknya nanti. Semoga ya Allah.
  3. Untuk mengatasi si kakak yang mendadak rewel, jangan langsung emosi. Turuti saja apa maunya karena pada dasarnya kerewelannya itu tidak mendasar dan hanya ditujukan untuk menguji kesabaran papa mamanya. Dalam hal ini awalnya saya dan suami sempat stres dan emosi. Tapi setelah tahu gejala sindrom punya adik baru, kami pun hanya tersenyum saja dan tetap memberikan perhatian kepada Atta.
  4. Sering-seringlah punya quality time bersama si kakak. Hal ini ditujukan untuk mengurangi kecemasan kakak akan berkurangnya kasih sayang setelah adiknya lahir nanti. Tanda-tanda kecemasan itu bisa jadi tak mau ditinggal papa mamanya, selalu ingin ditemani kemanapun dan seringnya mencari gara-gara agar papa mamanya marah. Hehe… Seperti Atta yang tanpa sebab melarang mamanya ke kamar mandi dan menyuruhnya duduk menemaninya bermain. Lalu tiba-tiba ingin mainan air sampai basah kuyub dan hanya mau ditemani sama mamanya saja.
  5. Jangan lupakan kebiasaan berpamitan setiap kali mau pergi kemanapun. Nangis atau tidaknya si kakak jangan dijadikan alasan. Kalaupun nangis karena tidak mau ditinggal, tekankan bahwa kita akan segera kembali. Bahwa kakak anak yang pintar karena tidak mudah menangis kalau mama papanya pergi sebentar. Hal itu akan memberinya pemahaman kalau mama papanya tidak akan meninggalkannya.

Rasanya tak sabar menunggu kehadiran si adik dan melihat reaksi kakak melihat adiknya nanti. Kalau kata orang tua sikap Atta akan hilang dengan sendirinya begitu adiknya lahir, maka itu membuktikan bahwa kecemburuan kakak hanya bersifat sementara. Tugas orangtualah untuk tetap memberikan perhatian yang sama rata kepada anak-anaknya. karena menurut psikolog Roalina Verauli, kecemburuan kakak terhadap adiknya itu dikarenakan adanya perlakuan yang berbeda dari orang tua atau orang di sekitarnya. Jadi yuk mama atau bunda dimanapun berada, tetap sayangi anak kita dengan segala perbedaannya ya. Saling sharing dan dukung yuk untuk tumbuh kembangnya.

Bagaimana?

2016-08-17 07.14.26.jpg

Ini Atta Ini foto Atta lagi selfie.

 

 

 

2016-08-28 17.46.47.jpg

Ini foto Atta yang selalu ingin sholat bareng papanya. Sekalian saya pasangin sarung dan kopyah. lalu chers…..