Search

wahyuindah

sebuah perjalanan yang selalu punya arti

Gejala Aneh Atta ketika mau punya adik

2016-08-14 18.03.57.jpg

Atta makin ceriwis. Tiap hari ada-ada saja yang dia omongin. Nada bicaranya cepat bak rel kereta api yang tidak bisa sembarangan berhenti. Tidak bisa disela. Bahkan lebih cenderung caper alias cari perhatian ke mama papanya dengan cara apapun. Tapi bisa jadi tanpa ada sebab yang jelas marah-marah dan melempar barang sembarangan. Nangis hanya karena mamanya bilang “tak boleh sayang” atau keinginannya untuk minta mobil-mobilan dituruti dengan begitu gampangnya. Nah loh. (maunya dilarang, jadi bisa ada alasan buat nangis. Ini kok dikasihkan saja. hehe)

Tingkah aneh Atta semakin menjadi ketika saya justru menertawakannya yang sedang merajuk. Maksudnya mungkin saya dilarang tertawa. Anehnya lagi ketika papanya marah, Atta justru minta dipeluk dan digendong papanya. Tuh, bingung kan. Sekarang yang lebih bingung lagi, Atta sedang suka-sukanya selfie pake hp saya. Senang dipotret dengan gaya ini itu. Kalau lagi memeluk saya pasti tak lupa memeluk perut saya yang membuncit sambil bilang. “Atta mau main sama adik ma. Adik suluh kelual ma.”

Subhanallah…. Atta pintar sekali. Dia tahu kalau akan segera punya adik yang sekarang masih ada di dalam perut saya. Kadang saya berpikir kalau tindakan Atta adalah wujud kecemburuan karena kasih sayang orangtuanya kelak akan terbagi dengan adiknya. Itu juga yang sering dibicarakan para tetua yang ada di sekitar saya. Orang tua, mertua bahkan tetangga. Kalau bahasa jawanya “nggudo” atau menguji kesabaran orangtua. Bahkan Atta sendiri sebenarnya tidak menyadari sikap yang dilakukannya karena semua itu bersikap naluriah. Karena seingat saya, sikap Atta itu terlihat justru ketika saya mengetahui kalau saya sedang hamil anak kedua.

Untunglah saya diberitahu tentang gejala”aneh” Atta dan cara mengatasinya oleh para orangtua. Jadi saya bisa lebih memaklumi tentang sikap anak sulung saya yang memang masih berumur 2,5 tahun. Suami juga berusaha untuk memahami psikologi anak kami dengan melatih kesabaran dan berusaha untuk tetap memberikan perhatian kepadanya. Bisa jadi para bunda dan ayah di rumah juga mengalami hal yang sama dengan kami. Jadi mungkin beberapa hal berikut bisa diterapkan agar buah hati kita tetap merasa disayangi dan tidak disingkirkan dengan kehadiran anggota keluarga baru.

  1. Jangan berubah dalam memberikan perhatian. Tetap konsisten dan tulus. Kalau bisa perbanyak memberikan peluk dan cium untuk menunjukkan bahwa mama papanya tetap mencintai dan menyanyanginya.
  2. Perkenalkan si kakak dengan calon adiknya yang masih ada di dalam perut mama. Tekankan pemahaman bahwa adiknya nanti akan jadi teman bermain kakak setelah lahir ke dunia. Jadi kakak tidak merasa kesepian. Atta sering ikut mengelus perut saya dan menciuminya. Saya bersyukur karena Atta sepertinya sayang kepada adiknya nanti. Semoga ya Allah.
  3. Untuk mengatasi si kakak yang mendadak rewel, jangan langsung emosi. Turuti saja apa maunya karena pada dasarnya kerewelannya itu tidak mendasar dan hanya ditujukan untuk menguji kesabaran papa mamanya. Dalam hal ini awalnya saya dan suami sempat stres dan emosi. Tapi setelah tahu gejala sindrom punya adik baru, kami pun hanya tersenyum saja dan tetap memberikan perhatian kepada Atta.
  4. Sering-seringlah punya quality time bersama si kakak. Hal ini ditujukan untuk mengurangi kecemasan kakak akan berkurangnya kasih sayang setelah adiknya lahir nanti. Tanda-tanda kecemasan itu bisa jadi tak mau ditinggal papa mamanya, selalu ingin ditemani kemanapun dan seringnya mencari gara-gara agar papa mamanya marah. Hehe… Seperti Atta yang tanpa sebab melarang mamanya ke kamar mandi dan menyuruhnya duduk menemaninya bermain. Lalu tiba-tiba ingin mainan air sampai basah kuyub dan hanya mau ditemani sama mamanya saja.
  5. Jangan lupakan kebiasaan berpamitan setiap kali mau pergi kemanapun. Nangis atau tidaknya si kakak jangan dijadikan alasan. Kalaupun nangis karena tidak mau ditinggal, tekankan bahwa kita akan segera kembali. Bahwa kakak anak yang pintar karena tidak mudah menangis kalau mama papanya pergi sebentar. Hal itu akan memberinya pemahaman kalau mama papanya tidak akan meninggalkannya.

Rasanya tak sabar menunggu kehadiran si adik dan melihat reaksi kakak melihat adiknya nanti. Kalau kata orang tua sikap Atta akan hilang dengan sendirinya begitu adiknya lahir, maka itu membuktikan bahwa kecemburuan kakak hanya bersifat sementara. Tugas orangtualah untuk tetap memberikan perhatian yang sama rata kepada anak-anaknya. karena menurut psikolog Roalina Verauli, kecemburuan kakak terhadap adiknya itu dikarenakan adanya perlakuan yang berbeda dari orang tua atau orang di sekitarnya. Jadi yuk mama atau bunda dimanapun berada, tetap sayangi anak kita dengan segala perbedaannya ya. Saling sharing dan dukung yuk untuk tumbuh kembangnya.

Bagaimana?

2016-08-17 07.14.26.jpg

Ini Atta Ini foto Atta lagi selfie.

 

 

 

2016-08-28 17.46.47.jpg

Ini foto Atta yang selalu ingin sholat bareng papanya. Sekalian saya pasangin sarung dan kopyah. lalu chers…..

 

 

 

 

Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak

Image result for buku ayah edy

Penulis : Ayah Edy

Penerbit : Noura Books

Tahun terbit : 2014

Jumlah halaman : 209 halaman

Ayah Edy. Bagi orang awam seperti saya pastilah bertanya-tanya siapa sih ayah Edy ini sampai banyak yang mengelu-elukannya dan meminta konsultasi tentang pendidikan anak kepada beliau. Kalau dilihat dari buku-buku karya Ayah Edy, tak heran jika ayah Edy menjadi kiblat bagi para orang tua yang ingin mendidik anak mereka dengan lebih baik. Ditambah dengan pola pendidikan di negeri kita yang membuat banyak orang tua sesak dan membuat para pendidik geleng-geleng kepala. Mengapa? karena sudah bukan rahasia umum jika pendidikan di negeri ini masih dalam metamorfosis menjadi bentuk yang selalu baru dan baru. Tapi kenyataannya yang terbentuk bukan sesuatu yang ideal, tapi masih sibuk mencari wajah baru tanpa mengetahui apakah wajah baru tersebut lebih baik atau malah lebih buruk.

Konsultan parenting dan penggagas Indonesia Strong from Home ini selalu menekankan pendidikan yang terbaik yang dimulai dari rumah. Suatu pemikiran sederhana yang sering terlewatkan oleh kita para orang tua yang cenderung mencarikan pendidikan modern dan “mahal” untuk anaknya dengan alasan masa depan yang lebih cerah. Para orang tua lupa bahwa didikan orang tua di rumah adalah yang utama dan membentuk karakter anak di lingkungan luar rumah.

Melalui buku ini, ayah Edy menjelaskan step by step cara memetakan potensi unggul anak dimulai dari hal kecil di dalam rumah. Peran orangtualah yang sangat ditekankan di sini. Karena yang mengetahui tumbuh kembang anak seyogyanya ya orang tua itu sendiri. Bukan guru di sekolah apalagi teman sepermainan.

Bakat anak sudah dapat dilihat dari kecil. Bahkan pada masa-masa golden age-nya. Pada masa inilah seharusnya orang tua lebih memperhatikan minat dan bakat anak. Buku yang didasarkan pada pengalaman dan kasus-kasus nyata yang ditangani ayah Edy ini memang patut untuk dimiliki. Karena dapat menjawab segala kegundahan orang tua seperti saya dalam mengatur pola asuh dan pola didik anak. Bahwa setiap anak pasti punya bakat sendiri-sendiri yang tidak sama dengan anak yang lain. Bahwa tidak boleh ada paksaan oleh orang tua untuk menuntut anaknya belajar padahal kemampuan anak sudah mentok. Dalam kasus ini ayah ini menyertai dengan contoh kasus dan menjelaskan cara pemecahannya.

Saya benar-benar terbantu dengan buku karya ayah Edy ini. Contoh kasus yang diberikannya benar-benar menjawab setiap kegundahan saya dan kekhawatiran saya dalam menemukan potensi unggul anak saya. Terima kasih ayah Edy. Untuk kamu-kamu yang ingin tahu tentang bagaimana menemukan potensi unggul anak sejak dini, wajib punya buku ini. Karena dengan membaca buku ini, kita seolah bertatap muka langsung dengan ayah Edy dan mengajukan pertanyaan yang langsung dijawab dengan cara bijaksana oleh beliau.

 

Surga Yang Tak Dirindukan

2016-08-13 06.23.51.jpg

Penulis : Asma Nadia

Penerbit : Asma Nadia Publishing House

Tahun terbit : Juni 2014

Jumlah halaman : xii + 308 halaman.

Tak kusimpan rahasia pada hawa meski tak juga kuceritakan semua bahwa padanya hanya ada sedikit cinta

kalimat indah di cover depan itu langsung mencuri perhatian saya. Mbak Asma memang jagonya menulis indah. Jago memainkan kata-kata sehingga membuat hanyut siapa saja yang membaca tulisannya. Entah apa makna dari tulisan itu, tapi menurut saya itu ungkapan hati seorang laki-laki yang bimbang oleh cinta. Benar begitu mbak Asma?

Lalu lihat lagi ungkapan berikut di lembar pertama sebelum memasuki kisah yang menggugah dalam novel ini.

Hanya kepada Allah,

Sang Pencipta segala keindahan

Aku menyandarkan keinginan-keinginan

Nah loh, apa nggak dibuat klepek-klepek tuh yang baca dengan kalimat seindah itu. Saya saja sampai geleng-geleng kepala. Mungkin kalimat itu adalah jawaban dari perempuan yang laki-lakinya sedang bimbang tadi. Eh benar lagi gak mbak Asma? hehe….

Surga yang tak dirindukan memang mengangkat tentang kisah cinta pasangan suami istri yang mulai goyah. Temanya klise yaitu tentang poligami dan jujur saja saya kurang suka dengan tema ini. Tapi setelah membaca novel ini, ketidaksukaan saja jadi tak beralasan. kenapa? karena mbak Asma mampu menghadirkan kisah poligami dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sekedar suami buaya darat doyan perempuan, atau istri kedua yang hanya ingin merebut harta dan kebahagiaan laki-laki yang sudah direbutnya, atau istri pertama yang kalap dan buru-buru minta cerai. hahaha…. itu sih yang selama ini terpatri dalam benak saya tiap kali mendengar kata poligami.

Keluarga memang sudah selayaknya menjadi surga buat pasangan suami istri yang ingin mewujudkan keluarga sakinah, mawadah dan warohmah. Tapi kalau sudah ada pengkhianatan, apakah surga itu masih layak untuk dirindukan? mungkin itu pesan yang ingin disampaikan oleh mbak Asma lewat novelnya kali ini. Dan kalau saya yang ditanya seperti itu, maka jawaban saya mungkin sama dengan jutaan perempuan lain kalau surga itu tak layak lagi dirindukan. Bahkan berpisah sering dijadikan jalan keluar daripada memendam perihnya diduakan.

Mbak Asma sendiri mengaku membutuhkan referensi dan banyak pemikirian dalam membuat novel ini. Penggarapannya termasuk yang paling lama yaitu 4 tahun jika dibandingkan dengan 49 buku karyanya yang lain. Gila ya, risetnya dalem banget. Tak heran jika berbagai tanggapan muncul setelah novel ini lahir. Tapi bukan Asma Nadia namanya kalau tidak bisa mengatasinya. Buktinya, novel ini sudah diangkat ke layar lebar dan menjadi salah satu film islam terinspirasi yang wajib ditonton.

Kisah rumah tangga Arini dan Pras memang awalnya seperti kisah rumah tangga lain yang mengalir bahagia. Namun setelah Arini tanpa sengaja menerima telpon dari seorang perempuan yang mengaku sebagai nyonya Pras, hatinya makin gundah. bukannya yang menjadi nyonya Pras adalah dirinya, mengapa ada orang lain yang mengambil gelar itu darinya. Pras juga tak pernah jujur padanya dan lebih banyak menghindar daripada berterus terang kepada istrinya. Disinilah praduga saya mendadak muncul. Bahwa Pras termasuk tipe laki-laki buaya darat yang doyan perempuan. Benar-benar merusak imej-nya yang terlihat seperti laki-laki santun yang taat agama. Namun setelah membaca bab Mei Rose semua dugaan saya tadi langsung buyar. Mengapa? karena alasan Pras menikahi Mei Rose, seorang gadis tionghoalah yang membuat sikap Pras jadi termaklumi. Memangnya ada apa dengan Mei Rose? lebih baik membaca bukunya biar lebih mendalami. hehe…

Saya sebenarnya tidak terlalu menyoroti gaya penulisan mbak Asma yang sudah amat layak menjadi perempuan inspiratif wardah beauty 2015 silam. Tapi yang mengganggu dalam benak saya adalah tentang tokoh Arini di dalam novel yang berbeda dengan tokoh Arini di filmnya. Jika di dalam novel, Arini digambarkan sebagai sosok istri yang lemah lembut dan tak pernah bicara kasar pada suaminya. Namun di film yang digarap MD Entertainment itu, sosok Arini jadi memecah barang di dalam rumah. Ngamuk kepada Pras yang ketahuan selingkuh dengan perempuan lain. Kalau alasan yang diajukan untuk kepentingan gambar dan urusan komersil lainnya saya sih angkat tangan. Tapi saya lebih suka Arini yang ada di dalam novel.

Saya juga suka dengan endingnya yang dibuat menggantung. Pembaca jadi menerka sendiri bagaimana sikap Arini setelah bertatap muka dengan Mei Rose. Perasaannya yang kembali diuji ketika melihat Mei Rose panik karena anaknya sakit dan pertemuannya dengan Pras di rumah Mei Rose yang akhirnya membongkar rahasia Pras. Waduh kalau saya yang jadi Arini, saya mesti ngapain ya? kalau kamu bagaimana?

 

Ayah (Sebuah Novel)

2016-08-13 06.25.17.jpg

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : Bentang

Tahun terbit : Mei 2015

Jumlah halaman : xx + 412 halaman

 

Ketika membaca judul buku Andrea yang satu ini saya langsung teringat dengan janji saya bertahun-tahun yang lalu pada diri saya sendiri. Yang tentunya sampai sekarang belum terwujud. Yaitu membukukan kisah hidup ayah saya dan menjadikannya sebuah buku dengan judul “ayah”. Namun sayang angan tinggal angan karena sampai ayah saya sudah berpulang niat itu masih ada di dalam alam bawah sadar saya. Andrea saya anggap sudah mencuri ide saya untuk membuat buku dengan judul “Ayah”. Tapi tentu saja saya tidak menuduhnya yang bukan-bukan. siapa saya berani melakukan hal semacam itu kepada penulis sekaliber Andrea. Hehe…

Membaca kisah Andrea yang satu ini ternyata jauh dari perkiraan saya. Awalnya saya mengira Andrea akan berkisah tentang ayahnya. Ternyata bukan. Tokoh Ayah dalam buku adalah seorang sabari yang dengan sabar melakoni kehidupannya yang teramat sederhana. Impian yang tak pernah muluk dan kepolosannya sebagai seorang manusia. Sabari yang rela mencintai satu orang perempuan yang sama sekali tak pernah mencintainya. Jangankan mencintai, melirikpun ogah. Tapi Sabari tak pernah mengharapkan imbalan. Bahkan ketika Marlena hamil di luar nikah dengan laki-laki lain, Sabarilah yang rela menjadi pahlawan kesiangan untuk menyelamatkan martabat keluarga Marlena yang ternodai. Marlena yang suka gonta ganti pasangan, yang selalu memandang acuh dan tak pernah menganggap Sabari ada, yang rela merebut anak yang dikandungnya tapi tak pernah dirawatnya sejak kecil karena diasuh dan dibesarkan penuh sayang oleh Sabari. Sabari yang tetap dengan satu prinsip hidupnya. mencintai ya mencintai saja. Tak perlu embel-embel yang lain seperti mengharap cintanya berbalas atau semacamnya. Sungguh sebuah ketulusan yang membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Tapi Sabari menerima semua itu tanpa banyak kata.

Latar belakang yang digunakan Andrea masih berada di daerah Sumatra. Juga Belitong tempat lahirnya dulu. Unsur kedaerahan sangat terasa dalam setiap kalimatnya. Membuat cerita tentang “Ayah” ini semakin kaya budaya. Kepiawaian Andrea dalam mengolah kata tak perlu diragukan lagi. Andrea yang mengaku tak pernah belajar tentang teknis menulis, nyatanya mampu menguasai gaya bercerita yang asyik. Menurut saya itu karena kecerdasan dan pengalamannya. Soal teknis bisa dibelajari sambil berjalan.

Kisah “Ayah” melompat-lompat menurut saya. Bukan kisah mainstream yang menghadirkan awal tengah akhir. Tapi justru di situlah sisi unik dan kecerdasan yang ditampilkan Andrea. Saya benar-benar dibuat terkejut ketika Andrea berhasil membuat pembaca seperti saya menerka-nerka siapa Zoro sebenarnya. Bahwa Zoro kecil ternyata menjelma menjadi Amiru ketika sudah beranjak besar. Amiru yang diceritakan terpisah di awal kisah seolah bukan bagian dari cerita “Ayah”. Ternyata mempunyai benang merah tersendiri yang unik. Sosok Lena yang awalnya terkesan seperti perempuan nakal karena ganta ganti pasangan, diceritakan Andrea sebagai perempuan yang masih punya martabat dan keteguhan hati. Perempuan yang selalu mengikuti kata hatinya sendiri meskipun bertentangan dengan suara orang lain. Perempuan kuat yang mampu berbuat sesuatu dengan ketegasan hatinya. Siap dengan segala resiko yang diambilnya. Dan pada akhirnya (ini yang akhirnya membuat saya terenyuh) bisa menerima Sabari sebagai ayahnya Amiru. Penantian yang teramat panjang bagi saya.

Saya rasanya tidak mungkin bisa membuat kisah seperti Andrea. Terpisah-pisah tapi bertemu di satu ujung tak tentu yang tak terduga oleh pembaca. Namun makna yang tersampaikan akhirnya mengena di hati saya. Kadang saya berpikir, saya tak ingin seperti Sabari yang terlalu menyia-nyiakan hidup dengan pengorbanan tiada ujung untuk orang yang tak pernah menganggapnya. Namun saya kadang juga ingin seperti Sabari yang memaknai hidup dengan begitu sederhana sehingga selalu merasa bahagia di setiap keadaan. Bagaimana dengan anda?

Ikut kasih komentar yuk…

 

Hafalan Shalat Delisa

2016-08-10 14.26.33.jpg

Penulis : “Darwin” Tereliye

Penerbit : Republika Penerbit

Jumlah halaman : vi + 266 halaman

Tahun terbit : 2008

Cetakan ke : XXVII pada Juni 2016

 

Dari dulu saya penasaran dengan novel karya mas “Darwin” Tereliye yang satu ini. Tapi keinginan untuk membeli belum ada. Pada jejak kesekian kalinya di Gramedia Basuki Rahmat Malang beberapa pekan yang lalu (Juli 2016), keinginan itu tiba-tiba muncul kembali ketika deretan buku yang masuk kategori “best seller” ini terpampang di depan mata. Biasanya kalau saya sedang mencari buku, buku yang saya cari mendadak saja tidak ada di tempat. Nah ini tidak ada niat mencari, tiba-tiba nongol begitu saja di depan mata. Saya anggap itu sebagai tanda-tanda bahwa saya memang harus membeli buku tersebut. Tanpa pikir panjang saya langsung mengambilnya dari rak dan membawanya ke kasir. (kalau ditunda besok-besok, takutnya bukunya ngilang lagi. hehe).

Kesan pertama saya ketika tiba di rumah dan membuka lembar pertama buku ini adalah “menyesal“. Kenapa? Karena rasa penasaran saya makin membuncah terutama setelah saya melihat treller film “Hafalan Shalat Delisa” di TV beberapa tahun lalu. (perlu dicatat: hanya trellernya saja, filmnya belum nonton. hehe) Tapi meskipun hanya cuplikannya saja, sudah membuat saya penasaran bukan main dan baru saat ini semuanya terbayar. Saya sengaja tidak memuaskan rasa dahaga saya sekaligus, melainkan bermain-main dengan rasa penasaran saya sendiri. Caranya dengan tidak langsung membaca kisah Delisa. Tapi membaca deretan komentator yang tertulis di lembar pertama buku ini yang kebanyakan dari goodread. (wah banyak yang suka dan mengharu biru nih. batin saya). Dan dugaan saya ternyata tidak meleset. Baru membuka bab pertama yang berjudul “Sholat lebih baik daripada tidur”langsung membuat saya merasa tersentil. Rasa sentimentil yang mendadak muncul ini bukan berhubungan dengan kisah Delisa loh, melainkan dengan kenyataan bahwa saya sendiri jarang sholat malam. Padahal tiap malam saya selalu terbangun karena buah hati saya (Atta, red) selalu bangun mendadak minta susu. Harusnya kesempatan itu saya gunakan untuk mengambil air wudhu dan sholat malam. Tapi yang saya lakukan adalah mengambil selimut dan kembali tidur. Memang pahala sholat malam itu berlebih karena bisa menahan godaaan syaitan nirojim yang senantiasa meniupkan penyakit malas pada kita. Dan saya sudah terjangkiti oleh penyakit itu. Jadi malu sendiri.

Kembali ke cerita Delisa, saya tak pernah heran jika mas Darwin Tereliye ini selalu bisa bercerita dengan begitu mengalir. Membuat saya terhanyut untuk mengikuti tingkah lucu dan menggemaskan si Delisa. Saya suka dengan sudut pandang yang diambil mas Darwin. Bukan dari pandangan orang dewasa, melainkan dari sudut pandang anak kecil berusia 6 tahun. Saya jadi geli sendiri ketika membaca Delisa yang bingung melihat umi yang kerap senyum-senyum sendiri ketika menerima telpon dari abi. Juga ketidakmengertian Delisa ketika kak Fatimah membicarakan hal-hal semacam cinta, kasih sayang, menikah dan sejenisnya pada uminya. Mas Darwin benar-benar membuka sisi kepolosan gadis seusia Delisa yang belum mengenal rambu-rambu “dewasa” seperti itu. Kontras sekali dengan tontonan TV zaman sekarang yang menghadirkan nuansa “pacaran” dan “kisah cinta” yang bebas ditonton anak kecil. Membuat mereka jadi tumbuh menjadi lebih dewasa sebelum waktunya.

Delisa sebenarnya juga ditampilkan mas Darwin untuk menjadi “dewasa sebelum waktunya“. Tapi dengan cara berbeda yang lebih cerdas dan mengharu biru. Yaitu dengan ketegaran dan ketulusannya ketika ditimpa rentetan musibah yang menimpanya. Tak tanggung-tanggung loh. Musibahnya itu tsunami yang menewaskan umi, kak Fatimah, kak Zahra dan kak Aisyah. ketiga kakak kandungnya. Juga Tiur teman bermaiannya dan ibu guru Nur yang selalu sabar mengajarnya di sekolah. Gadis sekecil itu dipaksa oleh keadaan untuk memahami arti kehilangan. Bahwa umi, kak Fatimah, kak Zahra, kak Aisyah, Tiur, dan ibu guru Nurnya tidak akan pernah kembali. Bahwa mayat Tiur yang tergeletak di depannya setelah gelombang tsunami menerjangnya merupakan bukti bahwa kematian itu nyata. Saya jadi langsung teringat dengan adik bungsu saya yang sekarang sudah kelas 2 SMU. Ketika ayah saya meninggal dunia bertahun-tahun yang lalu, adik saya itu masih sangat kecil. Bahkan belum sekolah. Dia tetap ceria dan senang melihat banyak orang di rumah. Padahal orang-orang tersebut sedang melayat almarhun ayah saya. Adik saya bahkan tidak mengerti ketika banyak orang memandangnya dengan tatapan kasihan dan pilu. Ia belum tahu apa itu yatim. Bahkan adik saya bersenandung riang ketika ikut orang-orang memandu keranda ayah ke arah pemakaman. Namun ketika melihat sendiri ayah saya dimasukkan ke dalam tanah, barulah adik saya bertanya mengapa ayah dimasukkan ke dalam sana. Lalu berteriak histeris meminta supaya ayah dikeluarkan dari sana. Itulah pertama kalinya adik saya menangis sejadi-jadinya karena melihat ayahnya dikubur. Sampai akhirnya banyak yang menenangkannya dan memberinya banyak hadiah agar terhibur. Benar saja, adik saya tidak menangis lagi karena diberi pemahaman bahwa ayahnya sudah berada di surga. Seiring beranjaknya usia, kini adik saya sudah mengerti bahwa ayahnya sudah meninggal dunia. Bahwa perlakuan baik dan simpati orang-orang yang ditujukan kepadanya karena dia sudah menjadi yatim sejak kecil. Saya selalu menangis ketika dia kadang menanyakan dimana ayah dan ingin punya ayah seperti teman-teman sekolahnya. Kisah Delisa yang disuguhkan mas Darwin ini membuat memori mengharu biru itu kembali hadir. Syukurlah adik saya sekarang sudah bisa menerima.

Didikan agama dalam keluarga ternyata penting untuk menentukan karakter seorang anak. Delisa yang tumbuh dengan segala kepolosannya tak lepas dari didikan umi dan abinya yang selalu menanamkan nilai-nilai agama di dalam rumah. Ditambah dengan lingkungan sekolah dan kampung yang agamis. Semua itu ternyata sekali lagi menyentil hati saya. Bagaimana dengan didikan anak-anak zaman sekarang yang cenderung “modern” dan lingkungan sekolah yang mengejar teknologi. Nilai agama sepertinya menipis bahkan tidak ada sama sekali. Tak heran jika anak-anak zaman sekarang mudah stress dan depresi. Ujungnya tumbuh menjadi pemberontak di usia remaja karena kurangnya didikan agama di lingkungan yang membesarkannya. (Sekali lagi saya tersadar bahwa saya pun harus mulai menanamkan nilai agama kepada buah hati saya yang saat ini berusia 2,5 tahun. Semoga bisa ya Allah…. ).

Kalau kebanyakan komentator menyoroti latar belakang cerita yang termasuk musibah yang maha dasyat di Indonesia yaitu tsunami Aceh. Maka bagian itu bagi saya hanya cameo saja. Karena yang menjadi point utama saya dalam mengomentari kisah Delisa justru pada niatnya untuk menghafal bacaaan Shalatnya. Niat yang dijalaninya dengan sungguh-sungguh. Meskipun awalnya (lagi-lagi mas Darwin menyuguhkan jiwa kekanakan khas anak seusia Delisa yang suka dengan hadiah) Delisa menghafal bacaan shalat itu karena tugas dari sekolah. Ditambah hadiah kalung dari umi dan sepeda dari abi. Tapi pada akhirnya Delisa mampu memahami bahwa ia benar-benar rindu untuk shalat karena Allah. Seperti cintanya kepada umi karena Allah. Awalnya karena iming-iming hadiah coklat dari ustadz Rahman, tapi ketulusannya membawanya pada hakekat hidup bahwa Delisa memang mencintai umi dan keluarganya karena Allah. Karena Delisa ingin dekat dengan Tuhannya.

Saya jadi teringat dengan nasehat guru saya ketika sekolah dulu. Belajar itu awalnya boleh saja untuk mendapatkan nilai. Agar nilai pelajaran di sekolanya bagus dan bisa naik kelas. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kita akan menyadari bahwa belajar itu tidak sekedar mengejar nilai. Tapi mendapatkan ilmu. Begitu juga dengan shalat. Delisa melakukannya dengan sangat baik. Meniru gerakan shalat tanpa mengetahui bacaannya. Sambil berjalan ia menghafal bacaan shalatnya. Sungguh Allah lebih mencintai orang-orang yang berusaha dengan gigih dan memperhatikan proses. Bukan hasil akhir. Bacaan sholat yang belum tuntas itulah yang menyelamatkannya dari musibah Tsunami. Dari sini saya menilai mas Darwin berhasil membuat kisah yang bisa memasuki akal pikiran. Bukan karena kebetulan atau ingin membuat tokoh utamanya selamat seperti yang disuguhkan sinetron Indonesia kebanyakan. Tapi akal bahwa Allah selalu punya rencana di balik setiap peristiwa. Hal tersebut bisa saja terjadi pada kita.

Sekali lagi saya tersihir dengan bagaimana mas Darwin bercerita tentang Delisa. Hal-hal yang menimpa Delisa bisa saja terjadi pada kita semua. Melalui Delisa, mas Darwin mengajari kita untuk belajar untuk mengenal arti tulus, menerima dan cinta karena Allah. Sungguh pesan yang sangat menggugah. Rasanya tidak ada kekurangan dalam buku setebal 266 halaman ini. Justru membuat saya semakin penasaran dengan kisah Tereliye yang lain. Saya salut dengan mas Darwin. Cerita Delisa benar-benar membekas di hati saya. Bagaimana dengan teman-teman? Sudah membaca Hafalan Shalat Delisa-kah? Saya tunggu komentarnya ya…

-salam-

 

Pentingnya Menjemur Bayi

Hasil gambar untuk menjemur bayi baru lahir

Menjemur bayi sudah menjadi keharusan bagi bayi yang baru lahir. Hal ini berkaitan dengan aktifitas metabolisme tubuh bayi yang masih belum sempurna pasca keluar dari rahim ibu. Jika selama di dalam kandungan, tugas dan fungsi sebagian besar organ tubuh bayi diambil alih oleh ibu seperti kerja hati dan ginjal. Maka setelah keluar dari rahim ibu, mau tak mau organ tubuh bayi akan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Hal yang sering terlihat dari upaya organ tubuh bayi yang masih belum sempurna adalah hati.

Hati merupakan organ penting yang bertugas untuk menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh. Yang dimaksud racun di sini adalah zat-zat yang dianggap berbahaya bagi metabolisme tubuh. Racun yang dicerna kemudian dipecah menjadi zat pemberi warna kuning (ampas racun) yang disebut bilirubin dan dikeluarkan melalui anus lewat feses/tinja. Bayi yang baru lahir belum memiliki kemampuan optimal dalam mengolah racun di dalam tubuhnya. Karena sebelumnya, ibulah yang mengolah racun selama bayi di dalam rahim. Akibatnya, bilirubin menampung banyak sisa racun yang mengakibatkan zat warna kuning tadi menjalar sampai ke permukaan kulit bayi. Itulah sebabnya bayi jadi berwarna kuning. Masalahnya, apakah warna kuning tersebut berbahaya? Jawabannya ada dua. yaitu ya dan tidak.

Bayi kuning memang mempunyai dua kategori. yaitu kuning fisiologis dan kuning patologis. Dikatakan kuning fisiologis atau ringan karena umum terjadi pada bayi berumur lebih dari 1 hari dan biasanya akan menghilang kurang dari 14 hari. Cara menanganinya yaitu dengan dijemur. Itulah mengapa menjemur bayi sangat penting. Bukan hanya ditujukan pada bayi yang terkena penyakit kuning, tapi bayi normal pun sangat dianjurkan untuk dijemur. Ini alasannya :

  1. Menjemur bayi dapat menurunkan kadar bilirubin yang dihasilkan oleh darah bayi. Biasanya kadar bilirubin naik pada hari ke-3 sampai ke-5 pasca melahirkan dan menurun pada usia 7 hingga 10 hari. Zat yang dapat menurunkan kadar bilirubin adalah sinar biru yang ada di dalam cahaya matahari pagi.
  2. Menjemur bayi di pagi hari juga dapat menyehatkan tulang bayi menjadi lebih kuat karena sinar matahari kaya akan vitamin D.
  3. Menjemur bayi juga dapat memberikan efek hangat dan nyaman pada bayi dan menghindarkannya dari stress (mudah rewel dan menangis tanpa sebab)

Untuk point ketiga di atas, stress pada bayi jangan disamakan dengan stress pada orang dewasa. Bayi yang mengalami stress biasanya dikarenakan kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi seperti haus, kurangnya belaian kasih sayang ibu, atau perlakuan kasar dari pengasuh. Akibatnya bayi akan protes dengan cara menangis atau rewel tanpa sebab. Karena itulah moment seperti menjemur bayi di pagi hari dapat digunakan untuk mengurangi tingkatan stress karena memberikan rasa nyaman pada bayi. Sayangnya tidak semua ibu mengerti proses menjemur bayi yang benar dan memberikan kenyamanan pada bayi. Berikut ini cara menjemur bayi yang dirasa cukup nyaman dan dapat menurunkan stress pada bayi:

  1. Lakukan pada pagi hari diantara pukul 7 sampai 8 pagi. Karena pada jam itu matahari masih sangat menyehatkan. Sementara di atas pukul 8, cahaya matahari sudah mengandung sinar UV A dan UV B yang membahayakan bagi regenerasi sel kulit. Jadi tidak dianjurkan menjemur bayi di atas jam 8 pagi.
  2. Jangan terlalu lama. Cukup 10 sampai 15 menit saja. Karena kulit bayi masih sangat sensitif dan rentan mengalami hipertermi (peningkatan suhu tubuh bayi) sehingga dapat menganggu fungsi organ tubuh bayi seperti otak dan sistem metabolisme tubuh bayi. (suhu tubuh bayi normal adalah 36,5 – 37,5 derajat celcius).
  3. Sebaiknya dilakukan sebelum bayi mandi dalam keadaan telanjang atau hanya memakai popok saja. Hindarkan bagian mata dari paparan sinar matahari langsung dengan cara menutupi bagian matanya.
  4. Menjemur bayi bukan berarti bayi dibiarkan begitu saja selama menit-menit penjemuran. Saat-saat itulah moment yang tepat untuk memberikan kenyamanan pada bayi dengan cara memijat bayi, melakukan pembersihan pada daerah telinga, lipatan tubuh, kulit kepala dan bagian tubuh lain sebelum mandi. Pijatan ringan inilah yang dapat mengurangi stress pada bayi. Ajak bayi ngobrol untuk mendekatkan ikatan batin ibu dengan sang bayi. Setelah memijat bagian dada, balikkan bayi untuk memijat bagian punggungnya juga. Intinya lakukan dengan sangat menyenangkan sehingga bayi merasa nyaman.
  5. Pilih lokasi menjemur bayi yang tidak terlalu terik dan terpapar sinar matahari langsung. Cukup lokasi yang teduh saja. Jika cuaca sedang dingin dan tidak memungkinkan membawa bayi keluar rumah, menjemur bayi dapat dilakukan di dalam rumah dengan penerangan lampu yang hangat.
  6. Menjemur bayi tidak dianjurkan dilakukan pada bayi prematur karena keadaan bayi tersebut membutuhkan sinar pencahayaan tertentu.

Bayi yang dijemur secara benar dan berkala akan menunjukkan bayi yang semakin sehat karena tulangnya terjaga dan untuk bayi kuning dapat menurunkan kadar bilirubin dalam darahnya. pada kuning fisiologis, warna kuning akan menghilang kurang dari 14 hari dan tidak sampai ke telapak tangan atau telapak kakinya.

Bagaimana jika ada kasus bayi kuning yang meninggal. Padahal sudah dilakukan penjemuran dengan benar? Dalam kasus ini, gejala kuning pada kulitnya sudah tergolong kuning patologis (berat). Tandanya :

  • Warna kuning sudah ada sejak bayi dilahirkan kurang dari 24 jam dan tidak segera menghilang setelah lebih dari 14 hari.
  • Warna kuning mengenai telapak tangan dan telapak kakinya.
  • Warna tinja menjadi pucat.

Dalam kasus ini, penjemuran saja tidaklah cukup. Bayi harus segera dikonsultasikan ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Karena kada bilirubin yang terus meningkat dapat naik sampai ke otak sehingga mengganggu pertumbuhan organ yang sangat fital tersebut. Bahkan dapat menyebabkan kematian.

Nah bunda, sebagai ibu yang sangat sayang dan peduli dengan buah hati kita sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga kesehatan bayi. Perawatan bayi setelah melahirkan seperti menjemur bayi tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Bahkan tidak sedikit loh bunda yang menjemur bayi justru setelah bayi dimandikan dan sudah berpakaian lengkap. Bagian yang dijemur juga hanya bagian kepalanya saja karena bayi sudah dibedong. Seperti yang pernah saya lakukan pada Atta. Anak pertama saya dulu karena ketidaktahuan saya. Ini salah ya bunda. karena yang perlu mendapatkan kehangatan sinar matahari adalah kulit bayi, bukan pakaian bayi. Perhatikan juga gizi makanan yang dimakan bunda selama mengandung dan juga pasca melahirkan. Jika bayi bunda mengalami gejala kuning, jangan langsung panik. Segera lakukan pertolongan pertama dan konsultasikan kepada dokter. Yang terpenting jangan lupa untuk menjemur bayi secara berkala.

Ingat! menjemur bayi bukan hanya dilakukan pada bayi kuning. Tapi bayi yang sehat pun perlu dijemur untuk membentuk tulang yang kuat pada tubuhnya. Selamat menikmati sensasi luar biasa bersama buah hati bunda selama menjemur bayi.

Salam..

Semoga bermanfaat ya bunda…

Perjuangan Memberikan ASI

Melihat sendiri sesosok bayi mungil keluar dari rahimku membuatku tak mampu menahan segala rasa yang bergejolak. Bahagia, terharu, dan entah perasaan apalagi yang sepertinya tak mampu aku gambarkan. Benar kata banyak orang, anak adalah anugerah terindah dalam hidup. Terutama bagi pasangan suami istri yang baru dikaruniai anak setelah 4 tahun menikah seperti aku dan suami. Penantian kami pun akhirnya berakhir dengan lahirnya Attharizz Altafio Zaidan Rahman dengan bobot 3250 gram dan panjang 49 cm. Yang lebih membuatku tak lepas dari rasa syukur adalah anakku lahir dalam keadaan sehat, tak kurang satu apapun dan tanpa darah yang biasanya melumuri kelahiran bayi. Benar. Altaf, begitu kami menyebut nama panggilannya keluar dari rahimku bersamaan dengan air ketuban sehingga seluruh tubuhnya bersih tanpa darah. Subhanallah. Suami yang saat itu ikut menemani selama di ruang persalinan tak lupa merekam setiap moment kelahiran Altaf dalam kamera handphone-nya.

Untuk pertama kalinya aku menyentuh bayiku ketika bidan membawanya ke dadaku untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Subhanallah…. ketika itulah tanganku menyentuh kulit bayiku yang lembut. Bukti hidup dari nyawa yang dititipkan ke rahimku oleh gusti Allah. Air mata tak kuasa meleleh di pipiku. kecupan hangat pun kudapatkan dari suami. Kami benar-benar merasa bersyukur. Sayangnya kebahagiaan kami tak berlangsung lama karena si kecil Altaf harus segera dibersihkan. Aku pun harus mengeluarkan ari-ari yang masih ada di rahim. Dalam sekali mengejan, ari-ari itu pun keluar. Alhamdulillah semua lancar. Suami keluar bersama bidan yang membawa si kecil Altaf. karena setelah dimandikan nanti, suami akan mengadzaninya. Sementara aku juga dibersihkan dan dibawa ke ruang rawat. Ketika masuk kamar rawat itulah aku melihat si kecil Altaf sudah tidur nyenyak di box bayi di samping ranjang tidur. Keluargaku sudah berkumpul untuk melihatnya dan tak sedikit yang berebut ingin berfoto dengannya. Tapi ketika aku ingin menggendongnya, ibu mertua tiba-tiba melarang dengan alasan aku belum cukup kuat sehingga aku hanya bisa gigit bibir menyaksikan bayiku digendong oleh beliau.

Si kecil Altaf mulai menangis ketika merasakan haus. Masalahnya, ASIku belum keluar sehingga mertua langsung meminta dot pada perawat. Padahal bidan saja menyarankan aku untuk terus mencoba memerah payudara untuk mengeluarkan ASI. Itulah kali pertama aku menangis karena melihat mulut bayiku menyentuh dot daripada puting payudaraku. Keadaan rupanya tidak berangsur membaik setelah kami pulang ke rumah satu hari sesudah kelahiran si kecil Altaf. Sampai hari ketiga, ASIku juga belum keluar. Kalaupun ada yang keluar hanyalah cairan kental berwarna kekuningan yang kadang bercampur dengan darah. Mertuaku memandangnya dengan pandangan jijik dan melarangku menyusui anakku dengan ASI kotor seperti itu. Betapa sakit hatinya aku mendengar larangan itu. Terlebih ketika aku memberitahu mamaku tentang cairan kekuningan itu yang ternyata harus diminumkan ke Altaf. Mama bilang cairan itu namanya kolostrum yang merupakan ASI pertama yang keluar setelah kelahiran bayi dari rahim ibu. Warnanya memang kekuningan dan kental, tapi banyak mengandung protein dan rendah lemak. Antibodinya juga tinggi sehingga membuat anak tidak mudah sakit di kemudian hari. Mama memarahiku yang membuang kolostrum itu di atas ari-ari Altaf yang ditanam suami di depan rumah. Padahal aku membuangnya atas perintah mertua.

Aku memang tak tahu menahu tentang pengasuhan bayi dan bagaimana merawat bayi setelah melahirkan. Harapanku, semua ilmu itu akan aku dapatkan dari mertua yang tinggal bersamaku dan suami. Maklumlah, ini pertama kalinya kami punya anak sehingga masih merasakan euforia tersendiri sehingga melupakan hal penting seperti itu. Tapi harapan tinggallah harapan karena mertua sama sekali tak memberikan dukungan untuk memberikan ASI. Bahkan mulai Altaf bangun tidur pagi hari sampai malam, ibu mertualah yang selalu memegangnya. Aku sama sekali tak diberi kesempatan untuk menyentuh bayiku sendiri. Aku hanya bisa menangis dan mengadu pada suami. Tapi rupanya suami tak bisa berbuat banyak karena anak kami juga cucu pertama bagi mertua kami. Jadi karena terlalu sayang sehingga anak kami tak boleh dipegang oleh orang lain. Satu hal yang membuat saya menjerit dalam hati adalah sikap mertua yang selalu memberikan susu formula pada Altaf sehingga ketika ASIku benar-benar keluar berwarna putih pada hari kelima kelahiran Altaf, payudaraku lebih banyak basah karena ASInya tak diberikan ke bayiku. Sedih rasanya dan stres jadinya. Apalagi genap 1 bulan sejak kelahiran Altaf, aku jadi jarang memberikannya ASI sehingga payudaraku sering sakit dan tiap malam selalu basah karena ASInya keluar dan merembes ke baju.

Ini tak bisa dibiarkan. Aku dan suami pun bertekad untuk mencari informasi untuk memperkaya pengetahuan tentang ASI. Bahwa bayi yang baru lahir sebaiknya disusui oleh ibu kandungnya. Bukan oleh dot. Bahwa ibu-ibu di seluruh dunia menyuarakan suara yang sama tentang pentingnya ASI dan menghindari susu formula. Bahwa setiap tanggal 1-7 Agustus tiap tahunnya dunia merayakan pekan ASI dunia untuk memberikan kesadaran tersebut kepada para ibu yang baru melahirkan. Tapi menyampaikan penjelasan itu kepada mertua rasanya sesulit mencari jarum di tumpukan jerami. Takut salah ngomong, takut bikin tersinggung.

Menyentuh Altaf pun menjadi hal istimewa karena jarang terjadi. Aku baru benar-benar menyentuhnya ketika acara selametan 1 bulan kelahiran Altaf yang disertai dengan potong rambut yang diadakan di rumah mamaku. Tangisku pun selalu pecah setiap kali aku menggendongnya. Aku ciumin, aku peluk dan tak aku lepas sedetikpun. Karena tak ada mertua yang akan merebut Altaf dari gendonganku di rumah mama. Saat itulah aku diajari mama bagaimana memandikan bayi, memakaikannya baju, membedongnya hingga akhirnya aku mahir. Ya Allah, kenapa begitu sulitnya aku menyentuh anakku sendiri jika bersama mertua. Di rumah mama, aku juga bisa memberikan ASI setiap saat tanpa perlu takut dilarang. Bahkan aku dilarang memberikan susu formula. Lega bercampur bahagia aku rasakan. Inilah yang seharusnya dilakukan mertuaku jika sayang pada cucunya. Bukan melarangnya meminum ASI dari payudaraku.

Perjuanganku memberikan ASI rupanya diuji ketika 2 minggu sesudah selametan itu aku kembali ke rumah suami. Seperti sudah aku duga, mertua sudah kembali menguasai anakku dan selalu disodori dot tiap kali bayiku menangis minta minum. Tapi kali ini suami bisa melarang dan menganjurkan untuk aku susui. Aku bisa melihat kekecewaan di wajah mertuaku. Semua ini membuatku menangis dan sedih. Mengapa mertuaku melakukan semua ini. Seperti sengaja memisahkan aku dan anakku dengan menghalangi pemberian ASI. Karena terbiasa dengan susu formula, Altaf jadi ogah-ogahan ketika menyusu padaku. Bahkan ASI-ku berangsur-angsur sedikit. Kenyataan itu rupanya membuat mertua senang karena punya alasan untuk terus menggendong Altaf dan memberikan susu formula sebanyak-banyaknya. ASIku pun jadi tambah sedikit dan lama-lama tidak keluar. Aku sedih, marah, kecewa tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sejak saat itu aku berjanji pada diri sendiri untuk mencari tahu lebih banyak tentang dunia anak sehingga aku bisa mengasuh anakku sendiri.

Pekan Asi dunia memberikan pandangan jernih padaku. Bahwa apa yang aku pikirkan tentang pemberian ASI pada bayi baru lahir sangat penting dan patut untuk diperjuangkan. Kini aku kembali mengandung anak kedua dan sudah memasuki trimester kedua. Sementara Altaf sudah berumur 2,5 tahun. Harapanku aku bisa memberikan ASI eksklusif pada bayiku kelak. Pengalaman tidak mengenakkan tentang pemberian ASI yang dialami Altaf semoga tidak terulang pada bayiku kelak.

b.jpga.jpg

 

 

 

Tangisku Harapku

“Mau sampai kapan aku harus mengalah? Apa menunggu aku mati duluan?”

Pecah tangisku menghadapi pertengkaran dengan tema yang selalu sama. Ibu mertua. Mas Amar tak bisa berbuat apa-apa karena terlalu hormat. Sementara aku dinilai terlalu egois karena mengandalkan perasaan sakit hati yang timbul tenggelam. Mas Amar bilang aku terlalu hiperbola, terlalu perasa. Aku tak pernah dibela. Sementara ibu mertua seolah tak pernah menyadari telah melakukan kesalahan besar. Bahkan dari sikap beliau yang berusaha mendamaikan kami, terlihat jelas bahwa ibu tak pernah sadar kalau sumber pertengkaranku dengan mas Amar adalah dirinya.

“Sudahlah nduk. Sabar. Jangan bertengkar terus. Malu kalau didengar tetangga.”

Kalimat itu yang selalu terucap dari bibir ibu. Padahal yang sering terlihat bertengkar setiap hari itu ibu dengan bapak. Tiada hari tanpa omelan ibu dan tiada hari pula bapak mengelus dada sambil terus mencari gara-gara yang memicu amarah ibu. Sementara aku dan mas Amar? Selama pernikahan kami, jarang kami bertengkar. Kalau pun bertengkar tak pernah seheboh sekarang. Cenat cenut di hatiku rasanya sudah membumbung tinggi. Tak kuasa menahan emosi yang setiap saat dipendam dalam hati. Ditambah dengan sikap mas Amar yang memilih diam tak membuat persoalan ibu mertua terselesaikan. Bahkan terlihat terus mengambang dan berkembang tanpa ujung. Valen, anak kami adalah sumber pertengkaran kami. Yah, usia Valen yang baru genap 2,5 tahun sudah dirampas dariku. Sejak Valen lahir ke dunia hingga sekarang, aku hanya sesekali saja mendekapnya. Bahkan satu bulan pasca melahirkan, Valen 100 persen dikuasai ibu. Aku sama sekali tak bisa menyentuhnya. memberinya ASI saja selalu diprotes. Alhasil Valen selalu disodori botol hingga ASIku mandeg dengan sendirinya.

to be continued

Khawatir Step Pada Anak

Suhu tubuh Atta mendadak meninggi malam itu. Tepatnya malam 1 Agustus kemaren. Padahal seharian tadi badannya tidak ada masalah. Aku menyimpulkan mungkin Atta kecapekan karena baru saja pulang dari Situbondo. Ke rumah Bude yang dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu. Aku membawa Atta karena sudah lama aku tak berkunjung ke rumah bude. Mengingat jasa beliau selama aku kecil dulu. Bahkan mami papi (anak dan mantunya bude) sudah menganggap aku anak sendiri. Berasa jadi durhaka jika aku tak pernah sowan ke sana. Apalagi mengingat masa kecilku yang penyakitan karena menderita step sejak usia 2 tahunan hingga kelas 6 SD. keluarga budelah yang merawatku dan membesarkan aku layaknya anak sendiri.

Tak kusangka jika penyakit masa kecilku itu kini menimpa anakku juga. Ya. Atta kejang malam itu. Semalaman suhunya panas, aku hanya bisa memeluknya dan menenangkan posisi tidurnya yang terlihat gelisah. guling sana, guling sini, tengkurap, telentang, pokoknya gak karuan. Tak tega aku melihatnya jadi langsung aku gendong dan aku pangku. Untunglah Atta langsung tenang. Setelah terlelap dan tenang aku letakkan kembali ke tempat tidur. Tapi belum berapa lama, tubuhnya mendadak kejang. matanya terbuka dan terbalik ke atas. kedua tangannya mengepal kuat dan nafasnya tidak beraturan. Histeris aku membangunkan suami yang tidur di sebelahku. Melihat kondisi anak sulungku yang masih 2,5 tahun itu suami jadi ikutan panik dan langsung berusaha membangunkan Atta. Jarinya dimasukkannya ke mulut Atta agar lidahnya tidak menggulung dan menghambat jalan nafas. Sementara aku diminta memanggil mertuaku. Ya Allah…. sesak dadaku melihat anakku kejang seperti itu.

Mertua langsung mendatangi bidan di dekat rumah. Suamiku menggendong Atta dengan panik ke sana. Aku menyusul sambil menangis sejadi-jadinya. Kekhawatiran yang pernah diungkapkan mamaku dulu kalau kemungkinan Step yang aku derita sejak kecil bakalan nurun ke Atta ternyata kejadian. Tapi bagaimana mungkin.

Bidan menyarankan untuk membawa Atta ke rumah sakit. Tanpa banyak pikir, aku dan suami langsung menuju ke UGD rumah sakit Prima Husada. Ketika itu adzan subuh baru saja berkumandang. Sepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya menangis sambil menggendong Atta yang sepertinya mau pingsan lagi. jariku aku masukkan ke mulutnya. Takut kalau dia kejang lagi. Sesampainya di UGD, dokter langsung memeriksanya. Aku katakan apa yang terjadi dan penanangan langsung diberikan. Obat kejang dan penurun panasnya dimasukkan lewat dubur. Setelah itu Atta mengantuk dan tertidur. Dokter menyarankan untuk membiarkan Atta tidur dulu sebelum dibawa pulang. Pukul 9 pagi, Atta baru bangun dan kami pun membawanya pulang. Namun aku belum lega sama sekali karena step itu bisa datang kapanpun. pemicunya adalah suhu tubuh yang panas. Maka seharian itu aku benar-benar banjir air mata. Mengapa anakku mengalami apa yang aku alami sejak kecil dulu?

STEP

Ada yang bilang kalau step adalah penyakit bawaan. Entah benar atau tidak, tapi mitos itu sudah berkembang di masyarakat. Tapi bawaan di sini tidak harus dari garis orang tua kandung. Seperti aku yang menerima bawaan dari pakde. kakak kandung mamaku. Bahkan anak pertama pakde meninggal karena step. Mamaku bilang aku dulu sempat tidak bernyawa karena step. kepala sampai digunduli untuk memasang jarum infus di kepala. Bukannya di tangan dan badanku yang mendadak kurus kering akibat kebanyakan obat. Untunglah Allah berkehendak lain dan memberikan aku kehidupan hingga sekarang. Namun ketakutanku kini tumbuh lagi manakala aku saksikan sendiri anakku yang masih berumur 2,5 tahun mengalami step. Ya Allah….mudah-mudahan tidak separah aku dulu dan segera diberi kesembuhan sehingga tidak kambuh lagi.

Menurut dunia medis, ternyata penyebab Step bukan karena bawaan. Tapi karena penurunan daya tahan tubuh anak dan serangan dari bakteri atau virus di sekitarnya. Pemicunya ternyata memang suhu badan yang teramat tinggi. Pada keadaan normal, anak bisa mengalami step jika suhu tubuhnya mencapai 39 derajat celcius. Namun pada anak yang toleransinya terhadap bakteri atau virus rendah, dalam arti daya tahan tubuhnya sangat lemah akan mudah terserang step pada suhu 38 derajat celcius. Beberapa penyakit juga bisa memicu datangnya step pada anak seperti cacar, campak, diare, flu, radang tenggorokan, serta penyakit akibat cuaca yang tidak menentu. Intinya penyakit yang menimbulkan demam tinggi pada anak. Jadi jangan pernah meremehkan demam.

Beberapa tips yang perlu dilakukan ketika anak kita step atau mempunyai riwayat step, diantaranya :

  1. Jangan kenakan pakaian yang tebal pada anak, karena akan menahan panas yang seharusnya keluar dari tubuh sehingga step mudah datang. pakaikan saja pakaian tipis dan memungkinkan anak untuk bergerak bebas.
  2. Ketika suhu badan meninggi, segera beri obat penurun panas. Jika tidak turun-turun dan keburu sudah kejang, segera bawa ke rumah sakit. Usahakan jalan nafas tidak terganggu. bisa memasukkan sendok atau tangan ke mulutnya untuk memastikannya.
  3. Ketika demam, pastikan untuk mengompres bagian tubuh anak terutama pada daerah lipatan seperti leher, lengan, ketiak, selangkangan, perut dan punggung. kompres dengan air hangat. bukan air dingin atau air panas. (bisa juga menggunakan obat tradisional seperti daun jarak untuk mengompres perut dan punggung.
  4. Jangan panik dan pastikan untuk memberi obat penurun panas secara teratur di rumah.

Mudah-mudahan tips ini bermanfaat ya. Salam…

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑